Graha Pena Gunadarma

Usir Nyamuk Pakai GIS

April 14th, 2012 | by | in Headline, ICT | 6 Comments

Gara-gara rumah diselimuti asap tebal berbau kerosin, Saya iseng mencari informasi tentang fogging dan berbagai tindakan pengelolaan kesehatan lingkungan.  Nyamuk gara-garanya, namun fogging tidak efektif mematikan telur atau jentiknya. Memang fogging bukan tindakan yang direkomendasikan, atau dengan kata lain, fogging menjadi alternatif terakhir saat terjadi epidemi di suatu wilayah.  Walau berabe, akhirnya rumah harus direlakan di-fogging, penghuninya pun “diusir” sementara sembari menutup hidung.

Fogging hanya tindakan darurat, bukan tindak efektif dan terbaik (doc pribadi)

Indonesia dikenal sebagai negara yang pertama kali  menemukan wabah demam berdarah pada tahun 1968. Hampir setengah abad kemudian, bumi pertiwi ini masih berkutat dengan wabah demam berdarah yang disebabkan oleh nyamuk.  Menurut laporan WHO tahun 2012 – bertajuk: Report of The Eighth Meeting of The Global Collaboration for Development of Pesticides For Public Health, Indonesia mengalami 58065 kasus dan 504 meninggal pada tahun 2011. Timbul pertanyaan, mengapa nyamuk-nyamuk masih menjadi serangga paling menakutkan di negeri ini?

Indonesia masuk dalam peta Dengue dunia (sumber: http://www.healthmap.org/dengue)

WHO menyebutkan beberapa program pencegahan dan penangahan yang mencakup: Chemical treatment of breeding sites, Biological control, Insecticide spraying, Environmental management and vector control, dan Community mobilization. Tindak yang paling efektif memang kesadaran bersama untuk menjaga kesehatan lingkungan. Justru disinilah Indonesia masih ketinggalan. Gerakan “3M Plus“ – yakni Menutup, Menguras, Mengubur, dan Menggunakan anti nyamuk terpercaya – hanya sebatas kampanye yang tidak menjadi gerakan masif yang berkelanjutan. Padahal untuk soal fogging ini, petugas di lapangan kadang mengabaikan standar dan prosedur fogging yang telah ditetapkan oleh dinas kesehatan atau puskesmas yang tentu mengacu ke standar WHO juga.

Mas, tolong pakai masker dong, asap itu kan mengandung insektisida (doc pribadi)

Standar seragam petugas fogging (sumber:WHO)

Soal penanganan nyamuk atau perlakukan terhadap demam berdarah, ada baiknya belajar dari Singapura. Untuk mencegah penyebaran nyamuk, Singapura menggunakan pendekatan integrated evidence-based approach yang mencakup kerjasama sektoral, edukasi publik,  layanan masyarakat, penegakan hukum, dan riset. Berbagai hasil riset dan studi pun secara rutin dipublikasikan.   Berbagai hasil risetnya bisa dilihat di sini.

Konferensi di Singapura, gara-gara ulah nyamuk? (sumber: www.stopdengue.sg)

Singapura sudah maju dalam menerapkan GIS, GPS, dan berbagai aplikasi berbasis web dalam pengendalian lingkungan terkait dengan penanganan lingkungan dan penderita demam berdarah. Semua terintegrasi dalam jaringan nasional sehingga sistem monitoring terhadap kasus, priorotas tindakan, dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan pun bisa cepat dan efektif.

Peta sebaran kasus Dengue di Singapura (sumber: WHO dikutip dari National Environment Agency, Singapura)

Identifikasi prioritas wilayah dengan teknologi GIS (sumber: WHIO dikutip dari National Environment Agency, Singapura)

Perencanaan, pengelolaan, dan pelaksanaan operasi pengendalian nyamuk dengan GIS (sumber: who dikutip dari National Environment Agency, Singapura)

*****

Potensi pemanfaatan teknologi GIS dipublikasikan juga oleh WHO di sini. GIS dapat digunakan untuk meningkatkan pengendalian Dengue dalam beberapa cara, yaitu:

  1. Teknologi GIS meningkatkan kemampuan dari staff pelaksana, perencana, pengambil keputusan, dan para peneliti untuk mengelola dan mengaitkan himpunan data (misalnya data geocodes address, batas geografis, atau koordinat lokasi) dari berbagai sumber yang berbeda.
  2. Teknologi GIS, Global Positioning System (GPS) dan Remote Sensing (RS) menyediakan jenis data tambahan seperti koordinat permukaan dan ketinggian lokasi sarang nyamuk, lokasi penderita DB, serta sumber penyebaran nyamuk yang dihubungkan dengan lokasi rumah, perkampungan, atau lingkungan tetangganya. Gambar digital dari satelit atau foto udara menyediakan informasi rinci pada peta sehingga meningkatkan akurasi informasinya.
  3. Teknologi GIS mendorong pembentukan kerjasama pengelolaan dan penggunaan data di tingkat masyarakat.
  4. Kapabilitas analisis spatial dari GIS (jarak, perkiraan, atau ragam tindakan) dapat digunakan untuk memperbaiki kegiatan pengendalian vector/entomologis, serta intervensi seperti pemberitahuan lisan ke masyarakat, serta mencari dan memusnahkan sumber-sumber penyebaran nyamuk.
  5. Teknologi GIS memungkinkan bekerja dengan menggunkan multi skala atau dimensi lain (waktu, data individual dan data agregat).
  6. Kapabilitas GIS untuk analisis statistik spatial dapat meningkatkan sistem informasi melalui dukungan yang lebih baik untuk perencanaan, pengawasan, evaluasi, dan pengambilan keputusan dan program pengendalian Dengue.
  7. Kemampuan GIS memungkinkan kita melakukan sintesa dan visualisasi informasi pada peta.

Namun, ada beberapa kendala teknologi GIS dalam pengendalian dengue, yaitu dilihat dari beberapa perspektif berikut:

  1. Teknologi GIS belum umum digunakan sebagai alat dalam program pengendalian vector. Faktanya, hanya sedikit aplikasi GIS  yang digunakan dalam program pengendalian Dengue dan berbagai penyakit lainnya yang disebabkan oleh fektor atau pembawa virus.
  2. Kendala terkait dengan ketersediaan peta jalan yang murah dan akurat tentang perumahan, batas lokasi yang memang penting dalam program pengendalian dengue. Beberapa peta dapat diakses melalui internet.
  3. Para teknisi, perencana, dan professiona, serta khususnya staff pelaksana pemerintah daerah atau wilayah setempat membutuhkan pelatihan dan dukungan pengguna dalam teknologi GIS, data, dan metode epidemiologi agar bisa menggunakan teknologi dengan baik dan efektif.
  4. Biaya perangkat lunak GIS merupakan kendala untuk memperluas penggunaan dan pengembangan aplikasi GIS untuk kesehatan public, dan khususnya, pada program pengendalian Dengue. Namun, akhir-akhir ini makin banyak perangkat lunak yang dapat diakses tanpa biaya karena banyak tersedia di internet.

Haruskah kita melancong ke Singapura demi menyenyahkan nyamuk di Indonesia?

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

6 Responses to “Usir Nyamuk Pakai GIS”

  1. Kita melancong ke Singapura untuk jalan2 aja pak :)

  2. Budi Hermana says:

    Oh, gara2 namanya sama sama teroris ya Zul? :)
    Ganti nama aja Zul hehehe

Leave a Reply