Graha Pena Gunadarma

Transportasi di Jakarta dan Kota-kota di belahan Dunia lain.

July 4th, 2012 | by | in Berita, Headline | 3 Comments


Menggambarkan wajah transportasi Jakarta sungguh kompleks pernak-perniknya sehingga agak sulit ingin memulai membahas dari sisi mana. Kemacetan lalu lintas sudah tak terpisahkan dengan keseharian warga Jakarta bahkan di jalan tol. Udara nyaris sulit dipakai bernapas, mata perih dan telinga harus dibiasakan menelan suara bising jika berkendara di jalan-jalan ibu kota Indonesia ini.

Kemacetan lalu lintas sudah tak terpisahkan dengan keseharian warga Jakarta bahkan di jalan tol (foto doc Rumah Pena)

Setiap hari, hampir 10 juta penumpang menghabiskan berjam-jam di jalan Jakarta. Diperkirakan pada tahun 2014, kepadatan lalu lintas di ibukota cenderung mencapai kemacetan total sebagai akibat dari peningkatan eksponensial jumlah kendaraan dibandingkan jaringan jalan.

Jakarta, bagaimanapun, tidak hanya kehabisan lahan untuk membangun jalan. Kota ini juga terjepit oleh kekangan konversi ruang terbuka ke rangka beton. Rencana Tata Ruang Jakarta 1965-1985, mencetuskan daerah hijau mencakup antara 26% hingga 28% dari permukaan kota, tetapi hari ini hanya terdapat sekitar 10 persen saja. Ruang hijau memiliki hubungan erat dengan masalah transportasi. Kombinasi efek dari banyaknya kendaraan keluar di jalan setiap hari dan kurangnya ruang terbuka hijau yang dapat mengimbangi asap jelas sangat menurunkan kualitas lingkungan kota Jakarta. Menurut Forum Indonesia untuk Lingkungan Hidup (Walhi), transportasi menyebabkan 70 persen polusi udara Jakarta, kota ini menghasilkan 13.000 ton karbon dioksida setiap hari.

Angkutan umum disinyalir memiliki peranan dilematis dalam sistem transportasi kota Jakarta. Di Jakarta diperkirakan akan mengalami ‘bencana transportasi’ karena gagal menjadikan angkutan umum sebagai prioritas, bahkan akan menjadi ‘bencana sosial dan ekonomi’ jika di paksakan cepat berubah dari kondisinya saat ini. Banyak konsekuensi yang masih harus dipertaruhkan dalam rangka pengutamaan angkutan umum ini bagi Jakarta.

Sistem angkutan umum yang dicita-citakan pastinya adalah yang cepat, massal, aman dan nyaman sebagaimana trend konsep Mass Rapid Transport (MRT). Dinegara-negara maju, peranan angkutan kereta untuk MRT sangat dominan, terutama untuk pelayanan dalam kota. Negara tetangga Malaysia misalnya MRT-nya disamping bus banyak difokuskan pada kereta Skyway, sedang Singapura secara terpadu mengembangkan sistem kereta subway dan skyway. Fakta yang terjadi di kota-kota yang menggunakan sistem light trail (seperti di Indonesia) dewasa ini terbukti sudah rumit pengontrolannya, kapasitasnya sibuk dan intensitas pelayanannya repot.

Konsep tentang angkutan umum juga mencakup lahan parkir. Di negara maju, lahan yang namanya tempat parkir khususnya pada areal di pusat perkotaan tidak lagi harus mempermasalahkan jaraknya dengan gedung tujuan. Di Amerika, tempat-tempat parkir yang jauh tersebut atau pada areal-areal tertentu yang tidak memungkinkan dilalui bus atau kereta, digunakan “Commuter” (semacam kendaraan shuttle). Kendaraan ini disengaja menjadi satu-satunya pilihan angkutan di areal tersebut. Layanan shuttle ini sangat murah bahkan gratis dibeberapa negara bagian tertentu. Namun, meskipun sistemnya begitu komprehensif ada saja potensi imbas balik dari sistem parkir ini.

Penelitian terakhir pada kota-kota di Amerika menunjukkan bahwa justru pada jam-jam pelayanan angkutan tinggi, kendaraan pribadi tetap marak karena merasa lancar. Statistik penumpangnya berjumlah rata-rata 1,2 – 1,3 orang permobil perjam. Artinya, meskipun telah ada tempat-tempat parkir yang nyaman dengan fasilitas mobil shuttle, kendaraan pribadi tetap saja eksis. Apakah ini permakluman situasi berkendaraan di Indonesia ? Di Jakarta misalnya, orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi tentunya dengan berbagai alasan terutama karena angkutan umum tidak nyaman. Belum lagi keluhan klasik : angkutannya rawan, tidak nyaman dan berpolusi berat.

Kemudian ada trend alternatif berkendaraan berupa konsep berkendaraan cepat tanpa hambatan berjudul “jalan tol”. Jakarta memilih konsep yang satu ini. Masyarakat kota Jakarta sangat berpengharapan besar terhadap kenyamanan yang ditawarkan jalan tol. Sayangnya, jalan tol saat ini sudah sukar dibedakan dengan jalan umum biasa, sering macet, antri dan rawan kejahatan. Adapun yang membedakannya dengan jalan umum mungkin adalah karena pengendara diwajibkan membayar ongkos tol yang pastinya akan terus naik.

Di Amerika, perusahaan pengelola jalan tol sangat diawasi oleh UU dan kebijakan pemerintah. Keberadaan jalan tol harus berdasarkan standar kelayakan yang berprinsip dari regulasi pemerintah dan legitimasi publik. Jalan tol dipersyaratkan harus tetap lancar, minim kecelakaan dan kejahatan serta dilengkapi dengan marka jalan yang lengkap. Apabila semua persyaratan tersebut tidak dapat dipenuhi maka toleransi yang diambil oleh pemerintah adalah mengubah status jalan tol tersebut menjadi jalan umum biasa.

Di Eropa angkutan umum kota sudah sejak lama menjadi prioritas pemerintah. Dulu semua kota besar disana rata-rata mempunyai angka kepemilikan kendaraan pribadi yang tinggi. Pada saat sistem transportasi KA dan Bus telah dibangun dengan baik, didapatkan fakta bahwa angkutan umum akhirnya mereduksi sebanyak 20 – 30 % penumpang kendaraan pribadi perkilometernya. Belakangan ini sesuai kesepakatan Uni Eropa, kota-kota di eropa saling bersaing dalam komitmen untuk memberdayakan angkutan umum yang dikombinasi dengan peraturan pembatasan mobil pribadi. Alasan mereka sudah bukan lagi pada kepadatan, keselamatan, ketertiban di jalan ataupun hemat energi tetapi sudah pada hitung-hitungan kadar polusi baik udara maupun suara.

Dinegara-negara berkembang secara umum angkutan umum juga memainkan peranan krusial meskipun dengan cerita yang berbeda. Mayoritas kota di Asia, Amerika Latin dan Afrika, alat transportasi dalam bentuk angkutan bus mencapai 50 – 80 % dari total kendaraan. Dan bahkan bus-bus ini sampai ‘overcrowded’ (persis kasus transjakarta). Dibandingkan dengan negara di Eropa, negara-negara berkembang memiliki penumpang angkutan umum yang rendah. Hal ini menggambarkan bagaimana ketidakmampuan jumlah bus untuk mengimbangi petumbuhan penduduk. Artinya meskipun bus banyak, jumlah penduduk yang harus dilayani lebih banyak lagi dan terus bertambah.

Sebagai contoh konkrit, Jakarta mungkin harus mengambil pelajaran dari Kolombia. Disana biasanya ada sebanyak 2 juta orang (30 persen dari penduduk kota) mengambil lebih dari 120 kilometer dari jalan utama 7:00-02:00 setiap hari Minggu, untuk naik sepeda, berjalan kaki dan banyak lagi partisipasi  di acara publik. Acara mingguan dimulai pada tahun 1976 tetapi diperluas terus pada hari lainnya. Prestasi yang paling membanggakan disana adalah TransMilenio, bus rapid transit (BRT) yang memungkinkan bus untuk melaju pada jalur khusus yang membuat transportasi massal lebih cepat dan lebih mudah daripada mengemudi kendaraan pribadi. TransMilenio mengangkut 43.000 penumpang / kilometer / jam, jumlah yang lebih besar dari sebagian besar kereta bawah tanah yang ada di dunia, pada kecepatan yang sama dan biaya yang kecil. Sistem Bus Rapid Transit disana merupakan simbol yang menunjukkan bahwa barang publik menang atas kepentingan pribadi karena ruang jalan dialokasikan terutama untuk transportasi umum.

 

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Yudi Nugraha → Architect

Lihat semua tulisan dari

Website : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

3 Responses to “Transportasi di Jakarta dan Kota-kota di belahan Dunia lain.”

  1. raden bayu h says:

    di Indonesia perlu adanya sebuah lembaga khusus untuk menerapakan atau memperbaiki masalah masalah transpotasi selain KNKT. yaitu akan menangani masalah angkutan masal d kota besar seperti contoh bus transjakarta transit 15 menit samapai 10 menit nah rentang waktu ini harus di perpendek 10 menit . dan masalah saluran air yang banyak sampah apabila hujan akan mengenangi bada jalan. selain itu harus merealisasikan mono rel. dan peningkatan transjakarta sampai daerah cibubur dan bekasi atau pun juga tangerang (perluas trayek)

  2. Cycha says:

    kenyamanan dan keamanan di bus umum harus ditingkatkan agar semakin banyak yang tertarik dan menggunakannya.

  3. fakhry says:

    tidak akan ada perubahan yg berarti selama pemimpinnya masih seperti sekarang …

Leave a Reply