Graha Pena Gunadarma

Ternate, Pesona di Kaki Gunung Gamalama

July 19th, 2012 | by | in Headline, Wisata | No Comments

Setelah terbang sekitar 40 menit dari Bandara Sam Ratulangi, kami bertiga mendarat di Bandar Udara Sultan Babullah pada Selasa (17/07/2012) selepas tengah hari. Hujan lebat menahan kami tetap di pewasat sembari menunggu bis jemputan. Hujan mereda. Tidak sabar menanti, kami memutuskan berjalan kaki sekitar 200 meter menuju ruang kedatangan. Gunung Gamalama cuma bersembunyi di balik awan hitam yang menyelumuti puncaknya. Semilir angin sejuk menerpa wajah dari arah laut yang terlihat tenang.

 

13426868531614562637
Bandara di kaki Gunung Gamalama (koleksi pribadi)

 

Suasana kota tua dengan sejarah panjang ini belum terasakan saat memasuki interior bandara yang namanya diambil dari salah satu Sultan Ternate yang dinobatkan tahun 1570.  Hanya Billboard dan reklame yang berserakan di semua dinding ruangan, menjajakan tempat-tempat wisata di kota yang sudah berusia 762 tahun. Suasana di dalam ruang terlihat hiruk-pikuk dan semrawut dengan lalu lalang orang. Keindahan di luar jauh lebih menarik, terutama pemandangan laut dengan latar belakang pulau Halmahera, Pulau Tidore, dan Pulau Maitara.

 

13426870001810491677
Bandara dengan latar belakang daratan Halmahera (Koleksi pribadi)

 

Status Ternate saat ini adalah pemerintah kota sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kota Madya Daerah Tingkat II Ternate. Ternate bukan ibukota definitif Provinsi Maluku Utara. Ternate hanyalah ibukota sementara saja, sambil menunggu kesiapan sarana dan prasarana dari ibukota resmi, yakni Kota Sofifi yang terletak di pulau Halmahera.

Ternate sudah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Ternate sejak abad ke-13 di Pulau Ternate. Kota yang hari jadinya tanggal 29 Desember 1250 ini merupakan kota kepulauan yang terdiri dari 8 pulau dengan luas wilayah 547,736 km². Hanya lima pulau yang berpenghuni yaitu Pulau Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, Pulau Mayau, dan Pulau Tifure. Tiga pulau lainnya adalah pulau kecil: Pulau Maka, Pulau Mano dan Pulau Gurida.

Udara lambat laun terasa tambah panas. Kami meninggalkan bandara, menuju Benteng Tolukko yang jaraknya relatif dekat. Benteng Tolukko adalah satu dari enam benteng yang ada di seputar Ternate. Lima benteng lainnya adalah Benteng Oranje, Benteng Kalamata, Benteng Kotanaka, Benteng Santo Y Pablo, dan Benteng Nustra Se Nohra Del Rosario. Dari nama-namanya, benteng tersebut menyisakan  jejak masa penjajahan Belanda dan Portugis di Ternate.

 

13426874091322077495
Benteng Talukko (Koleksi pribadi)

 

13426874871157568043
Memantau luat dan daratan Tidore dari balik benteng Talukko (Koleksi pribadi)

 

Kami melanjutkan perjalanan ke Kedaton Kesultanan yang juga tidak jauh dari pinggir pantai. Keliling kota Ternate sama saja dengan mengelilingi kaki Gunung Gamalama. Waktu tempuhnya sekitar satu jam saja. Pemandangan di depan Kedaton pun sungguh indah. Foto Sultan pun terpampang pada baligo di jalan depan Kedaton. Taman dan keindahan alam di depan Kedaton cukup menarik. Kami hanya berkeliling di luar Kedaton saja. Kunjungan secara resmi direncanakan pada esok harinya.

 

1342688055375903633
Kedaton Kesultanan Ternate (Koleksi pribadi)

 

13426881422094702299
Pulau halmahera dan Tidore dilihat dari lantai dua Kedaton (Koleksi pribadi)

 

Obyek berikutnya yang disasar di hari pertama adalah Mesjid Raya Al-Munawwar yang baru diresmikan pada 6 Agustus 2010. Bangunan mesjid tersebut terletak di pinggir laut. Sayang, katanya, satu dari empat menara mesjidnya sudah runtuh. Tiga menara dan kubah utamanya dapat dilihat dari bagian kota lainnya yang lokasinya lebih tinggi.

 

1342688302230839465
Mesjid Raya Ternate (Koleksi pribadi)

Mengintip pesisir pantai dari selasar tembok Masjid (Koleksi pribadi)

Masjid dilihat dari atas benteng Talukko (Koleksi pribadi)

 

Pesona Ternate membuat kami lupa makan siang yang baru bisa menjelang sore. Selepas makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan di hari pertama. Batu Angus menjadi sasaran berikutnya. Tumpukan batu hitam pun berserakan di kedua sisi jalan utama yang mengitari Gunung Gamalama. Batu hitam menjadi bukti aktifnya Gunung Gamalama. Muntahan lahar panas pun sampai ke pantai, lalu membeku menjadi batu angus.

Puncak Gamalama di balik Batu Angus (Koleksi Pribadi)

Batu angus di bibir pantai (Koleksi pribadi)

Selanjutnya kami menyebrang ke pulau Tidore yang bisa ditempuh sekitar 10 menit saja dengan Speedboat. Kami pun bertolah dari Pelabuhan Bastiong yang sangat ramai saat orang-orang mau menyeberang ke Pulau Tidore dan Halmahera.

Pelabuhan Bastiong di Ternate (Koleksi pribadi)

Malam menjelan di Pelabuhan Bastiong (Koleksi pribadi)

Kami pun terguncang-guncang saat perahu melaju kencang. Sesekali kami melirik Lalu lalang perahu di sisi kiri dan kanan. Pulau Maitara dan Tidore pun semakin mendekat. Dua pulau itulah yang tertera pada uang kertas Rp 1000. Kami menyambangi kedua pulau Tidore dengan sewa speadboat Rp 150 Ribu. Kami pun mendarat di Pelabuhan Rum yang terlihat lebih sepi dibandingkan Pelabuhan Bastiong. Deretan perahu dan lalu lalang orang pun jauh lebih sedikit. Kota ternate terlihat di kejauhan yang mulai diselimuti kegelapan. Kelap-kelip lampu pun mulai muncul di bawah kaki Gunung Gamalama.

Pelabuhan Rum di Pulau Tidore (Koleksi pribadi)

Latar belakang kota Ternate dilihat dari Pelabuhan Rum di Tidore (Koleksi pribadi)

Menu hari pertama kunjungan di Ternate diakhiri dengan menikmati matahari terbenam di antara pulau Maitara dan Ternate. Rasa penat menghilang saat melihat indahnya sunset di Tidore.

Matahari terbenam di antara pulau Maitara dan Ternate (Koleksi pribadi)

Selepas petang kami pun menyeberang ke Ternate lagi, menikmati kakap bakar, lalu menuju Hotel untuk menikmati keindahan Kota Ternate dari atas bukit.

Tags:

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

Leave a Reply