Graha Pena Gunadarma

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

October 16th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 5 Comments

Gara-gara laporan Beban Kinerja Dosen (BKD), Saya kadang berharap bisa membuat buku secara rutin. Minimal satu buku per tahun, syukur-syukur per semester. Harapan yang tidak terlalu muluk, walau tidak mudah digapai, setidaknya perlu “strategi mencuri” waktu dan memilih cara penerbitan yang relatif mudah dan cepat.

Target membuat buku tidak bisa dicapai dengan cara mendadak. Rasanya menulis buku tidak bisa dengan gaya: “kebut semalam”, atau dengan  cara: “mengasingkan diri berhari-hari”. Tugas lain dan godaan “ngerumpi”, bahkan siaran langsung sepakbola pun bisa menjadi halangan.

Keterbatasan waktu – atau mungkin rasa malas juga – menyebabkan “proyek membuat buku”  ini harus dicicil. Perlahan-lahan. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya modus seperti ini menjadi pilihannya. Dan media yang digunakannya adalah blog pribadi, baik yang disediakan kampus atau di luar kampus.

Ya, postingan di blog bisa menjadi bahan buku jika sudah terakumulasi dalam beberapa seri tulisan tematik. Maksudnya, beragam kategori postingan bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku yang pernah disusun dengan modal “ngeblog” adalah “Electronic Banking”, “Manajemen Dana Bank”, “Banking on The Blog”, dan “New Economy: Ekonomi Era Informasi”.

Buku-buku tersebut lebih banyak diterbitkan di kampus. Hanya satu buku yang diterbitkan di penerbit luar. Menerbitkan buku di institusi sendiri menjadi opsi mudah. Namun tetap saja harus disunting dan membuat disain cover sendiri, atau setidaknya merepotkan teman-teman. Belum pengurusan ISBN-nya. Mengurus sendiri pun perlu waktu. Setidaknya, kita coba variasi cara penerbitan buku.

Akhirnya, sekedar untuk menambah pengalaman, Saya mencoba menerbitkan buku dengan cara: Self-Publishing. Cara ini relatif memberikan kemudahan – minimal bagi Saya –, di antaranya adalah:

  1. Disain Cover dibuatkan oleh Penerbit Indy, setelah kita menyetujui disainnya
  2. Pengurusan ISBN
  3. Penyuntingan naskah oleh penerbit, walau tetap diupayakan dari naskah daro kitanya sudah relatif siap cetak
  4. Bantuan promosi, walau kita bisa bantu juga melalui jejaring sosial atau pertemanan
  5. Proses komunikasi dengan penerbit mudah dan cepat
  6. Bisa memperoleh beberapa eksemplar bukunya

“Tidak ada makan siang gratis”. Demikian pula dengan Self-Publishing. Kita harus mengeluarkan biaya, yang berkisar dari ratusan ribu sampai satu juta rupiah. Tidak mengapa mengeluarkan anggaran sebesar itu per tahun. Toh, bisa disisihkan dari sebagian penghasilan kita, termasuk dari tunjangan sertifikasi dosen. Jika rajin mempromosikannya, siapa tahu nilai royaltinya bisa membuat investasinya bisa “balik modal”.

Bagi saya, soal royalti bukan utama. Kalau toh ada royaltinya, ya patut disyukuri juga :) Saat melihat fisik buku dengan nama kita tercantum jadi penulis pun sudah memberikan kepuasan tersendiri. Bahkan, tak jarang buku tersebut dijadikan hadiah atau kado buat teman-teman.

Memang buku-buku tersebut bukan buku hebat. Jauh pula dari label: “Best Seller”. Ini semacam kegiatan “iseng” untuk mendokumentasikan hasil uneg-uneg, tulisan iseng, atau buah pemikiran yang sempat tertuliskan di blog. Kalau toh ada motif pragmatis, ya itu tadi, buku tersebut bisa menjadi bahan untuk laporan BKD atau dijadikan bahan ajar.

Oh iya, jika merasa sulit menulis sendiri. Kita bisa berkolaborasi menulis buku. Cara ini saya tempuh saat menyusun buku “Melawan Hantu Bernama Skripsi”. Pasangan penulis saya adalah seorang dosen di Surabaya. Tidak pernah bertemu muka. Modalnya hanyalah pertemanan di dunia maya – tepatnya di media sosial berlabel: “Citizen Journalism”.  Ketertarikan pada topik yang sama mendorong kami berdua bisa menerbitkan buku sederhana dengan modal blog bersama dan email-email-an, tanpa “kopdar” :)

Yuk, menulis buku bersama!

Katakanlah, empat orang dosen membuat postingan rutin dengan kategori tulisan yang sama, misalnya Perbankan, Kewirasuahaan, Akuntansi, Pemasaran, Teknologi Informasi, dll. Menulisnya bisa di blognya masing-masing, atau di Rumah Pena. Jika masing-masing membuat 10 postingan dalam satu semester, atau sekitar 2 postingan saja per bulan maka akan terkumpul 40 tulisan. Jumlah yang cukup untuk dijadikan satu buku. Jika itu terealisasi, minimal empat orang dosen sedikit berkurang pusingnya saat membuat BKD :)

Catatan:

  1. Buku: “Perbankan Indonesia Pasca Krisis Finansial Global”
  2. Buku: “Melawan Hantu Bernama Skripsi”
  3. Cara Menerbitkan Buku dengan Self-Publishing, di antaranya bisa dilihat di sini dan sini.

 

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

5 Responses to “Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku”

  1. PK Wiyadnya says:

    Mohon infonya, penerbit siapa saja yang bisa membantu untuk self-publishing ?

    terima kasih,

  2. Dyah Antariksa says:

    Kiat anda sangat inspriratif, terimakasih.

  3. Mohon infonya pak, untuk pengurusan ISBN seperti yang bapak tulis bagaimana ya pak. Kayaknya saya berminat membuat buku tentang wirausaha. Thanks infonya.

  4. Malkas Media says:

    Self-publishing memang solusi bagi para penulis.
    Sukses terus blognya Pak.

    Share info juga, untuk pelaku self-publishing yang mau cetak buku sendiri :
    https://malkasmedia.wordpress.com/2015/05/19/kerjasama-self-publishing/

  5. VisiPress says:

    Terima kasih untuk informasinya :)
    Jika Anda berminat untuk menerbitkan buku rohani, silakan kunjungi website kami di http://visichristianstore.com/?page_id=5854
    Tuhan memberkati …

Leave a Reply