Graha Pena Gunadarma

Seberapa Susah Berbisnis di Indonesia?

March 31st, 2012 | by | in Ekonomi | 1 Comments

Sebenarnya banyak hal yang bisa dicermati pada The Global Competitiveness Report 2011–2012, yang menempatkan Indonesia pada posisi peringkat 46 dari 142 negara. Setelah membahas peran pendidikan tinggi dalam meningkatkan daya saing Indonesia, sekarang kita lihat bagaimana peran dan kondisi dunia usaha dilihat dari kacamata global, termasuk bagaimana persepsi responden terhadap dunia usaha di Indonesia.

Indikator daya saing yang berhubungan dengan peran dunia usaha memang tersebar dalam indikator pada setiap pilar pengukuran Global Competitiveness Index, di antaranya (1) tingkat proteksi terhadap investor pada pilar 1 (institusi), (2) prosedur memulai usaha pada pilar 6 (Efisiensi pasar barang), (3) kerjasama tenaga kerja dengan pengusaha pada pilar 7 (Efisiensi pasar tenaga kerja), (4) kemudahan akses pinjaman pada pilar 8 (Pengembangan pasar uang), (5) penyerapan teknologi oleh perusahaan pada pilar 9 (Kesiapan teknologis), (6) ukuran pasar domestik pada pilar 10 (Ukuran pasar), (7) kualitas pemasok lokal pada pilar 11 (kecanggihan dunia usaha), serta (8) belanja perusahaan untuk riset dan pengembangan pada pilar 12 (Inovasi).

Kita lihat peringkat Indonesia pada 8 indikator tersebut, yang boleh disebut sebagai relatif bervariasi: memprihatinkan, biasa-biasa saja, atau cukup membanggakan. Indonesia tergolong bagus untuk proteksi terhadap investor, yaitu peringkat 36. Hmm, memang Indonesia terkenal “ramah” terhadap investor asing, sampai-sampai banyak perusahaan besar dikuasai oleh asing. Namun, peringkat untuk indikator prosedur memulai usaha tergolong jeblok yaitu peringkat 94. Artinya, buka usaha di Indonesia relative sulit, namun sekali masuk ke Indonesia, investor asing dilayani dengan secara “istimewa”.

Kita sering mendengar gontok-gontokan antara buruh dengan pengusaha, apalagi jika terkait dengan penetapan UMR. Kondisi tersebut mencerminkan hubungan buruh dan pengusaha yang tidak harmonis. Dan itu terlihat dari peringkat kerjasama  buruh-pengusaha, yaitu ke-68. Aspek ketenagkerjaan merupakan pekerjaan rumah yang relatif susah-susah gampang. Pemerintah pun menghadapi dilema, apakah pro tenaga kerja atau pengusaha, walau sejatinya harus berposisi netral. Namun, tidaklah mudah mengurus tenaga kerja di Indonesia, apalagi tingkat pengangguran dan kemiskinan menjadi PR lain yang bisa mempengaruhi pasar tenaga kerja di Indonesia.

Indonesia memang tergolong negara pengutang, bahkan hutang luar negeri pun menjadi andalan mempersempit defisit anggaran. Di tingkat perusahaan, ternyata dunia usaha tergolong mudah juga memperoleh pinjaman. Bisa jadi ini berhubungan dengan semakin gencarnya perbankan atau lembaga keuangan bisa mengucurkan pinjaman ke para pengusaha. Kemudahan berhutang pun menjadi salah satu indikator yang paling “mumpuni“, yaitu peringkat ke-16. Semoga saja, hutang bukan menjadi budaya atau gaya para pengusaha. Bukan berarti tidak boleh mengambil kredit dari bank, namun bagaimana hutang tersebut bisa menjadikan perusahaan bisa terus maju, bukannya gulung tikar terkena kredit macet.

Tingkat penyerapan teknologi pada perusahaan relative “sedang-sedang saja”, yakni menempati peringkat ke-54. Penguasaan teknologi memang menjadi masalah klasik bagi negara-negara berkembang, yang cenderung menjadi pemakai teknologi, bahkan bisa jadi banyak perusahaan di Indonesia yang belum melek teknologi terbaru. Anehnya, anggaran perusahaan untuk kegiatan riset dan pengembangan cenderung dinilai baik, yaitu menempati posisi ke-31. Bisa jadi, kegiatan riset dan pengembangannya tidak sampai menemukan teknologi baru, atau hanya sebatas pengembangan proses bisnis yang tidak terlalu sarat teknologi tinggi.

Untuk ukuran pasar, saya tidak tahu harus bersikap seperti apa: senang atau miris. Yang jelas, peringkat Indonesia memang tergolong tinggi untuk pasar domestik, yaitu peringkat ke-16. Kondisi ini bisa berkaitan dengan jumlah penduduk, atau juga “keramahan” Indonesia terhadap importir, walau pasar domestic yang besar pun tetap bisa dimanfaatkan oleh pengusaha domestic juga, khususnya sektor usaha mikro, kecil, atau menengah. Yang jelas, Indonesia merupakan “kue besar” yang bisa dinikmati para pengusaha yang menjual barang dan jasanya ke masyarakat Indonesia.

Indikasi Indonesia lebih dinikmati oleh pengusaha asing, atau membanjirnya komponen impor sebagai bahan baku industry, mungkin disebabkan juga oleh kualitas pemasok lokal yang cenderung dinilai rendah, yaitu menempati peringkat ke-68, atau terjelak pada Pilar kecanggihan bisnis yang terdiri dari 9 indikator.

Peringkat di atas memang tidak mencakup semua indikator dalam GCI, khususnya yang berhubungan dengan peran dan kondisi usaha di Indonesia. Walaupun demikian, dunia usaha di Indonesia masih tergolong belum semaju Singapura atau Malaysia jika dilihat dari peringkat indikator-indikator tersebut. Lalu faktor apa saja yang menjadi penghalang dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Kita lihat saja hasil survey yang tercantum dalam The Global Competitiveness Report 2011–2012.


Apakah Anda setuju dengan hasil survey tersebut?

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

One Response to “Seberapa Susah Berbisnis di Indonesia?”

Leave a Reply