Graha Pena Gunadarma

Rupiah Melorot BI Melotot

May 30th, 2012 | by | in Ekonomi, Headline | 2 Comments

BI mulai khawatir dengan kurs Rupiah (terhadap USD) yang mulai merangkak naik, atau terjadi pelemahan (depresiasi) dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Indikasi kekhawatiran BI tersebut terlihat dari gencarnya BI memberikan penjelasan ke publik melalui media massa terkait kesiapan BI dalam mengatasi pelemahan rupiah tersebut. Upaya tersebut bertujuan untuk meyakinkan publik agar tetap tenang.

BI akan keluarkan jurus baru meningkatkan cadangan devis (doc pribadi)

Saya sendiri melihat sikap BI tersebut cenderung reaktif. Bahkan pada tanggal 29 Mei 2012, BI serentak membuat pengumuman dan press release di websitenya. Yang pertama adalah pengumuman (sebenarnya pemberitahuan tentang adanya tulisan dalam gerai info BI) dengan judul: “Kebijakan Devisa Hasil Ekspor & Devisa Utang Luar Negeri : Demi Stabilnya Rupiah dan Tegaknya Merah-Putih”. Sebuah judul yang “heroik”. Yang kedua adalah press release berjudul: “Kebijakan Pendalaman Pasar Keuangan & Penguatan Manajemen Operasi Moneter”. Siaran Pers tersebut menunjukkan BI mulai ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus baru.

Sebelum kita mencermati apa yang akan dilakukan BI, mari kita lihat perkembangan nilai rupiah terhadap dollar amerika, berdasarkan data dari BI. Pergerakan nilai rupiah – pada kurun waktu dua minggu, sebulan, selama tahun 2012, dan dalam periode 10 tahun terakhir  dapat dilihat pada grafik-grafik berikut.

Pergerakan kurs RP/US$ sejak tahun 2001

Pergerakan kurs Rp/US$ satu tahun terakhir

Pergerakan kurs Rp/US$ Januari - Mei 2012

Pergerakan Kurs Rp/US$ seoanjang bulan Mei 2012

Sebenarnya melemahnya rupiah pada kisaran 9500-an bukanlah yang terburuk pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir seperti terlihat pada grafik pertama. Namun dalam satu tahun terkakhir rupiah cenderung melemah terus (grafik 2). Pada awal tahun Rupiah pun sempat membaik, bahkan sempet di bawah Rp 9000/USD. Dan akhirnya dalam dua minggu terakhir, Rupiah terus melemah dan per tanggal 30 Mei 2012 sudah berada pada level 9570 seperti ditampilkan di halaman muka website BI.

Info Kurs Rp/USD$ harian di halaman depan website BI

Sebenarnya wajar dan memang harus begitu jika BI melakukan press release dalam rangka meredam kepanikan masyarakat yang secara teoritis bisa menurunkan kepercayaan pada Rupiah. Pasar yang panic tersebut bisa jadi meningkatkan permintaan terhadap USD. Lonjakan permintaan inilah yang disinyalir meningkatkan harga USD, atau melemahnya rupiah.

Para pengamat melihat melemahnya Rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal, khususnya yang terjadi di Eropa. Bak pepatah, gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Maksudnya, saat ini USD memang menguat sehubungan dengan gonjang-gonjang di uni eropa, terutama mengenai kepastian Yunani dalam zona eropa (yang tentunya menggunakan mata uang Euro). Saat Euro terpuruk (dan USD berjaya) itulah rupiah pun kena imbasnya.

BI sendiri cenderung melihat faktor internal untuk melihat faktor penyebab utama melemahnya depresiasi. Bahkan, salah satu hipotesisnya adalah kemungkinan ada pelaku pasar uang atau bank yang nakal. Namun tuduhan tersebut masih memerlukan pembuktian. BI harus cermat dan hati-hati melihat fenomena depresiasi rupiah ini agar tidak terkesan paranoid atau panik.

Sisi lain yang disorot oleh BI adalah pasokan USD dari para penghasil Devisa. Ini berhubungan dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.13/20/PBI/2011 pada 30 September 2011 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri (DULN). Secara umum kebijakan BI yang mulai diberlakukan per 2 Januari 2012 tersebut merupakan upaya menarik valuta asing yang banyak diparkir di luar negeri. Menurut artikel yang diriilis BI di sini, nilai DHE dan DULN yang tidak masuk ke sistem perbankan nasional lumayan besar, yakni US$ 29 Milyar untuk DHE dan US$ 2,5 Milyar untuk DULN.

Pengumuman BI tentang DHE dan DULN pada websitenya tanggal 29 Mei 2012 bisa juga dianggap bahwa PBI No.13/20/PBI/2011 belum efektif menambah pasokan US$ dari para penghasil devisa tersebut.  Tuduhan bahwa kebijakan BI tersebut sebagai bentuk kontrol devisa ketat juga sudah disanggah dengan alasan BI tidak akan melanggar  UU No.24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa & Sistem Nilai Tukar yang sudah jelas mengamanatkan sistem devisa bebas.

Akhirnya, BI merencanakan jurus baru agar pasokan US$ diharapkan meningkat. Dalam press release di atas BI mulai ancang-ancang mengeluarkan kebijakan baru agar pihak yang punya Dollar tertarik untuk memarkir devisanya di Bank Indonesia. Dengan dalih pendalaman pasar keuangan, BI akan meluncurkan instrumen keuangan baru yang disebut dengan “term deposit” yakni yaitu instrumen penempatan devisa oleh perbankan domestik di Bank Indonesia. BI pun akan memberikan berbagai insentif bagi bank yang mau memanfaatkan instrumen baru tersebut, di antaranya BI menyebutkan: “Fitur lainnya dari instrumen ini antara lain imbalan yang kompetitif, dimungkinkannya early redemption, serta tidak diperhitungkan dalam ATMR dan ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN)“.

Apakah jurus baru BI – termasuk iming-iming insentifnya – akan berhasil menarik minat perbankan dan para penghasil devisa untuk memasok cadangan devisa di BI? Kita tunggu saja penerbitan Peraturan Bank Indonesi (PBI) berikut Surat Edaran yang akan menjadi landasan hukum penerbitan instrumen baru tersebut.

Jika akhirnya kebijakan BI tersebut berhasil menarik devisa  – yang disinyalir masih ada yang tersimpan di luar sistem perbankan nasional – maka pertanyaannya adalah Apakah itu demi merah putih, atau memang inilah salah satu wujud ekonomi kapitalis yang selalu menggoyang perekonomian Indonesia?

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

2 Responses to “Rupiah Melorot BI Melotot”

Leave a Reply