Graha Pena Gunadarma

Prof. Eriyatno: Creative System Thinker

April 6th, 2012 | by | in Berita, Headline | 5 Comments

 

Prof. Eriyatno, pemikir sistem kreatif (doc. pribadi)

Beruntung hari ini saya ditugaskan menghadiri acara Expo System di Botani Square di sebelah Kampus IPB Baranang Siang Bogor. Nostalgia dan bersua dengan dosen favorit membuat saya antusias berangkat pagi-pagi naik kereta. Mengingat waktunya mepet, saya pun langsung naik ojek dari Stasiun Bogor ke arah Botani Square. Ternyata acara dipercepat karena kehadiran Bapak Dahlan Iskan. Saya datang saat Rektor IPB memberikan sambutan, dilanjut dengan paparan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang menjadi pembicara utama.

Soal Dahlan Iskan sudah saya ceritakan di sini. Kali ini Saya akan menuliskan kiprah seorang guru besar yang telah memasuki usia pensiun. Seorang Guru Besar yang pernah memberikan bekal dan motivasi ketika saya dulu menuntut ilmu di IPB seperempat abad yang lalu. Dan, kini, Guru Besar itu tetap membuat orang lain terkagum-kagum dengan segala kiprah dan dedikasinya.

*****

Acara Expo yang bertajuk Peranan Sistem untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Pengembangan Agroindustri di Pedesaan tersebut terdiri dari tiga agenda yaitu pameran, acara purnabakti Profesor Eriyatno, dan launching buku. Memang tokoh kunci pada acara tersebut adalah Profesor Eriyatno yang memasuki usia pensiun. Beliau juga memberikan orasi ilmiah dengan judul Creative System Thinking. Dulu, kami lebih akrab memanggilnya dengan Pak Eri.

Prof. Eri memang tergolong orang langka karena prestasinya. Saat jadi mahasiswa, beliau menjadi mahasiswa teladan tingkat nasional. Kepiawaiannya dalam berorganisasi membuatnya populer di kalangan mahasiswa. Tidak heran, salah satu jabatan struktural yang diembannya adalah Pembaru Rektor III IPB bidang kemahasiswaan. Sebelumnya, beliau pernah menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Pada saat jadi Dekan itulah, Prof Eri membuka program studi baru, yakni Teknologi Industri Pertanian. Di program studi itu juga akhirnya Prof Eri semakin mengukuhkan dirinya sebagai pakar sistem.

Falsafah sustem: SHE (doc pribadi)

Prof Eriyatno dilahirkan di Malang pada tanggal 6 Maret 1947.  Beliau menyelesaikan kuliah sarjananya di jurusan Mekanisasi Pertanian IPB pada tahun 1972. Tidak lama setelah lulus sarjana, Beliau melanglang buana ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan program pascasarjananya, tepatnya di Michigan State University. Beliau mendapat gelar M.Sc pada tahun 1976, dan tiga tahun kemuadian meraih Ph.D di bidang Agricultural and System Engineering.

Selain mengajar di IPB, beliau pun dipercaya memegang jabatan penting di pemerintahan. Beliau pernah menjabat Kepala Regional I BAPPENAS, Staf ahli Menko Ekuin, dan Deputi Pembiayaan-Kementerian Koperasi dan UKM. Saat ini, beliau adalah anggota The International Society of System Science dan menjadi editor Journal of System Research and Behevioral Science. Sekarang beliau mengelola jaringan pakar melalui Policy Research Experts-Network (PRE-Net), dan aktif di bidang pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro (MFI) untuk pedesaan dan pertanian.

Saat memberikan sambutan pada acara peluncuran bukunya (doc pribadi)

Profesor Eriyatno juga mengajar di Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Gunadarma. Beliau memang dikenal sebagai pakar pendekatan sistem. “Sintesa, bukan Analisa. Merangkai bukan mengurai”, ujar beliau saat memulai orasinya. Beliau pun mengkritisi tentang pendekatan ekonomi liberal yang hanya mengedepankan laju pertumbuhan ekonomi saja. Menurutnya, perlu ada dua ukuran lain membentuk tiga dimensi keberhasilan pembangungan nasional, yaitu pertumbuhan, pemerataan, dan pelestarian.

3 Dimensi Indeks Keberhasilan Pembangunan Nasional (doc pribadi)

Kecintaannya pada Indonesia tidak diragukan lagi. Bagi dia, mahasiswa Indonesia harus mempunyai karakter kuat, selain sebatas pandai saja. Dan, karaktet tersebut adalah patriotisme atau cinta tanah air. Prof Eri pun member kejutan di akhir orasinya, yakni dengan membacakan puisi dan lagu Tanah Airku. Sekejap ruangan pun hening dan syahdu saat beliau dengan suara seraknya berpuisi dan menyanyikan lagu yang membuat meriding. Puisi dan lagu itu mengingatkan kembali akan rasa cinta terhadap ibu pertiwi, yang kadang tenggelam di tengah deru individualism dan modernisasi.

Persembahan puisi bagi ibu pertiwi (doc pribadi)

*****

Saya mengenal Pak Eri saat kuliah di program studi yang didirikannya, yakni Teknologi Industri Pertanian menjelang tahun 1990. Memang konsentrasi atau laboratorium yang saya pilih tidak bersinggungan dengan laboratorium sistem yang dikomandoi oleh Pak Eri waktu itu. Namun, saya sempat mengikuti kuliahnya yakni Analisis Keputusan dan Sistem Informasi. Gaya kuliahnya lebih banyak diskusi dan memberikan wawasan keimuwan. Humoris, motivator, serta dekat dengan mahasiswa menjadi ciri khas beliau.

Hampir duapuluh tahun kemudian, Saya bertemu kembali dengan beliau. Kali ini beliau menjadi penguji luar saya pada saat mengikuti program Doktor di Universitas Gunadarma. Ya, hidup dan kehidupan memang tidak bisa diprediksi. Prof Eri pun selalu menganggap hidup itu tidak bisa disederhanakan atau diasumsikan hanya dalam bentuk angka atau statistik saja. Memang beliau tidak terlalu menyukai pendekatan kuantitatif dalam riset yang berpijak pada asumsi dan penyederhanaan masalah. Buat beliau, memaknai hidup dan kehidupan pun perlu pendekatan sistem, pun dalam kegiatan riset.

Memahami kerumitan dengan pendekatan sistem, bukan dengan asumsi atau penyederhanaan

Begitulah Prof. Eri. Semua koleganya berharap Beliau tetap bertugas dan berkarya, walau pada hari Kamis tanggal 4/4/2012 IPB, kolega,  dan berbagai kalangan telah memberikan apresiasi dan penghargaan yang luar biasa kepadanya. Purnabakti bukan berarti berhenti mengabdi dan berbakti.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

5 Responses to “Prof. Eriyatno: Creative System Thinker”

  1. Nasirwan/F23-TIN says:

    terima kasih ‘sharing’ nya kang BuHer. saya tak beruntung -krn harus dinas LN agak jauh sehingga – tak bisa hadir walaupun ada undangan yg tiba dari IPB. tentu saja kalau bercerita ttg pribadi Prof Eri, tak abis2nya kita mensyukuri pernah dibimbing dan berinteraksi dgn beliau. ilmu, nilai2 dan inspirasi yg ditanamkan pada kita saat kuliah dulu dan pd kesempatan lain membuka cakrawala fikir kita jadi lebih luas, menjadi penguat motivasi untuk lebih maju. iya, lazimnya posisi ‘guru’ tak mampu kita membalas jasanya pada kita, tapi saya yakin bhw beliau faham betul bhw nilai amal jariyah dgn ‘reward’ dari Allah adalah jauh lebih penting.

    sependapat bhw walaupun sdh purnabakti di IPB, kita selalu berharap beliau tetap dapat berkiprah dalam membantu negeri ini menjadi lebih baik. saya kira, walaupun sdh usia senior spt ini, beliau tetap ‘darah-muda’ didalamnya, bahkan kita2 muridnya mungkin banyak yg kalah sigap dan gairah berkarya,

    semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan umur panjang bagi Prof Eri………

    Gaudeamus igitur, Juvenes dum sumus.
    Post jucundam juventutem, Post molestam senectutem
    Nos habebit humus, Nos habebit humus…..
    Viva academica, viva professores..

    • Budi Hermana says:

      Duh, seneng banget Bang Nasirwan mampir. Apa kabar Bang?
      Iya, mudah2an Pak Eri tetap sehat dan berkarya terus ya.
      Acara kemaren memang seru dan luar biasa, sebagai bukti dari pengabdian Pak Eri yang luar biasa juga.
      Makasih ya Bang, salam

  2. Didit FA says:

    Semoga Pak Eri tetap diberi kesehatan dan sumbangsih ide/pikirannya baik dari beliau langsung maupun dari para anak didiknya dapat membuat negeri ini menjadi lebih baik..

    Salam
    F26 – Agritenth

  3. Bejo says:

    Silakan kunjungi video Orasi Prof. Eriyatno di http://www.youtube.com/watch?v=aeahLiwWKeo

Leave a Reply