Graha Pena Gunadarma

Ngeblog, Bisakah Jadi Artikel Ilmiah?

March 30th, 2012 | by | in Edukasi | 3 Comments

Bisakah postingan di blog diklaim sebagai artikel yang diakui dalam perhitungan beban kinerja dosen? Jangan harap! Kecuali postingan di blog tersebut persis disajikan seperti artikel dengan segala aturan atau kaidah ilmiah yang kadang dianggap lebih kaku. Walaupun sama-sama buah pemikiran, rangkaian kata-kata dalam sebuah blog dipandang tidak pantas sebagai artikel atau publikasi. Walaupun ide atau opininya mencerahkan dan menginspirasi banyak orang, tetap saja “sang penilai”- regulator yang menilai kepantasan dan kepatutan sebuah artikel- tidak mengindahkannya. Tulisan di blog bukan artikel yang pantas diapresiasi dalam laporan kinerja dosen. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa tulisan di blog tidak layak dirujuk atau muncul di daftar pustaka dalam sebuah artikel ilmiah.

Jadi, buat apa dosen ngeblog?

Kita lihat dulu sekilas tentang fungsi dan peran dosen. Namun kita tidak perlu berpanjang kata tentang itu, saya cuma membatasinya pada pengisian laporan kinerja dosen yang perlu disampaikan secara rutin per semester. Salah satu yang banyak dilaporkan adalah kinerja riset dan publikasi, dengan melampirkan bukti laporan hasil penelitian atau artikel ilmiahnya. Soal bukti tersebut, tulisan populer di blog tidak akan diperhitungkan oleh reviewer.

Begitulah esensi yang saya tangkap dari laporan kinerja dosen (BKD) yang menjadi salah satu tugas administratif dosen setiap semester. Kinerja seolah hanya diukur dengan melaporkan berbagai kegiatan dosen yang mencakup bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, atau aktivitas lainnya yang pantas dilaporkan sebagai dosen. Pengisiaannya pun sudah menggunakan program elektronik, termasuk perhitungan beban kerja yang diukur dengan SKS. Pengisian data bisa ditolak jika tidak sesuai dengan pedoman dan persyaratan.

Soal SKS ini, dosen tidak boleh kurang, lebih pun jangan. Tidak pantas dan patut jika mengajar banyak, menulis berlebihan, dan mengabdi kepada masyarakat secara “over dosis”. Semua ada batasan maksimalnya. Ada kesan dosen harus mempunyai beban kerja yang merata dan normal-normal saja. Sepertinya tidak ada superman di kampus, namun jangan pula tidak melakukan apa-apa. Kalau toh bisa menulis dan meneliti yang banyak, janganlah semua dilaporkan karena akan melanggar batas maksimal. Semuanya harus “sedang-sedang saja”. Itulah salah satu makna dari “kepantasan dan kepatutan” versi pemerintah.

Akhirnya, pengisian BKD cenderung administratif sebagai sarat minimal untuk menjadi dosen yang pantas diganjar tunjangan sertifikasi dari pemerintah. Memang, sebagai sebuah instrumen monitoring, BKD perlu diapresiasi. Dosen dapat bercermin diri apakah sudah melaksanakan kegiatan sesuai dengan peraturan dan perundangan. Terlepas dari ketidaksetujuan terhadap regulasinya, khususnya sistematika dan cara perhitungan kinerja dosennya. Intinya, jika dosen menjalankan fungsi dan perannya sesuai aturan, pengisian BKD bukan menjadi persoalan. BKD hanyalah semacam rekam jejak dosen selama satu semester.

Kembali ke tulisan di blog, kita mencoba berpikir positif saja. Saya kadang memanfaatkan tulisan di blog sebagai ide awal atau bahan dasar untuk penyusunan sebuah artikel, yang mungkin diperlukan di masa datang. Setidaknya saya bisa mengambil substansi atau makna secara umum dari tulisan saya di blog. Memang perlu modifikasi atau pengayaaan dan pendalaman lebih lanjut. Bisa saja tulisan masih perlu dipermak dan diformat ulang.

Semakin singkat atau tidak formal sistematika dan tata bahasanya, tulisan di blog semakin perlu disusun bahkan dirombak ulang. Bisa jadi, daripada pusing, mending membuat artikel sendiri dari awal. Namun, kayaknya tulisan di sebuah blog sayang kalau terbuang begitu saja. Jadi tidak ada salahnya membuat tulisan di blog dengan sedikit memberikan kerangka atau substansi yang nantinya bisa menjadi sebuah artikel.  Bahkan, gambaran rujukan data atau referensi yang diperlukan pun sudah bisa disajikan di blog, dengan bahasa populer tentunya. Intinya, blog bisa dimanfaatkan sebagai dokumentasi atau pengingat topik dan acuan data yang diperlukan untuk sebuah artikel nantinya.

Soal sistematika dan tata bahasa, tulisan di blog bisa tetap gaul dan populer. Setidaknya itu menurut pendapat saya. Bukankah jika menulis dengan gaya artikel ilmiah di blog memang tidak dianjurkan. Toh blog bukan jurnal ilmiah. Rasanya kalau tulisan di blog seperti artikel ilmiah, misalnya lengkap dengan metodologi dan daftar pustakanya, tulisan di blog bisa panjang dan membosankan pembacanya. Tapi, mengutip rujukan atau sumber data bisa saja disisipkan, misalnya cukup dengan memberikan tautan, atau ilustrasi visual yang menarik.

Bagi saya, tulisan-tulisan di blog semacam “catatan kecil” untuk mendokumentasikan opini saya dalam menyikapi atau merespon fenomena, atau menuliskan agenda semacam “log book” biar menjadi “pengingat” ketika suatu saat perlu membuat “road map”.  Syukur-syukur tulisannya bermanfaat. Saya anggap blog sebagai “pengingat” bahwa saya pernah beropini tentang “sesuatu” atau melakukan “sesuatu”. Dan, “catatan kecil”, “pengingat”, atau “sesuatu” tersebut bisa menjadi pengungkit penulisan artikel yang “sesungguh”-nya.  Misalnya, beropini tentang peraturan perundangan terbaru, berpendapat tentang sebuah kebijakan mengenai pendidikan tinggi, atau membuat reportase saat berkunjung dalam rangka riset atau tugas pengabdian kepada masyarakat.

Jadi, ketika saya harus membuat artikel, saya suka melihat apa saja sih yang pernah saya tulis di blog. Pun begitu saat mengingat tugas apa saja yang pernah dilaksanakan di waktu silam, misalnya memberikan pelatihan di kampus lain, atau menjalin kerja sama dengan mitra eksternal. Catatan seperti itu sangat dibutuhkan saat kita menggali kegiatan yang pantas dilaporkan dalam BKD. Cara seperti itu akan sedikit mengurangi waktu dan energi. Minimal saya sudah menyicilnya dengan menulis di blog.

Ya, salah satu motivasi menulis di blog adalah menyiapkan berbagai topik yang, suatu saat nanti, bisa dijadikan artikel yang sesungguhnya. Bahkan, tidak menutup kemungkin, kumpulan tulisan di blog bisa menjadi sebuah buku, atau minimal sebagai modul ajar yang bisa dimanfaatkan untuk proses belajar-mengajar di kelas.

Yuk, kita ngeblog!

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

3 Responses to “Ngeblog, Bisakah Jadi Artikel Ilmiah?”

  1. izul says:

    Yuk kita ngeblog!!

  2. Budi Hermana says:

    Hehehe, makasih ya Zul :)

Leave a Reply