Graha Pena Gunadarma

Nasib Rupiah dan Nasionalisme

June 16th, 2012 | by | in Ekonomi, Headline | No Comments

BI terus menyuarakan optimismenya dalam menahan depresiasi rupiah akhir-akhir ini. Melemahnya Rupiah diduga karena imbas dari krisis global yang kini menjalar di wilayah Eropa. Setelah memberitakan membludaknya (oversubscribed) lelang time deposit valas, pada tanggal 15 Juni 2012 BI mengeluarkan siaran pers dengan penuh percaya diri, dengan judul: “Bank Indonesia Siap Antisipasi Kemungkinan Memburuknya Krisis Eropa”.

Keyakinan tersebut didasari – salah satunya – oleh eksposur hutang luar negeri dan perbankan dengan negara-negara Eropa relatif kecil. Saya kutip salah satu pernyataan BI dalam siaran pers tersebut:

Posisi utang luar negeri swasta Indonesia dari Eropa per April 2012 tercatat USD 21,6 miliar dimana sebagian besar berasal dari Belanda (57,3%), Inggris (10,7%), Jerman (6,4%), dan Prancis (2,5%). Eksposur utang ke negara-negara PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol) sangat kecil. Demikian pula eksposur perbankan Indonesia terhadap Eropa juga relatif kecil.”

Negara Eropa yang pertama kali dianggap terparah terkena krisis Eropa adalah Yunani, kemudian diperkirakan merembet ke Portugal, Spanyol, dan Italia. Negara PIIGS akhirnya menjadi negara Eropa yang rentan terhadap krisis global. Yang menarik adalah negara PIIGS tersebut justru menjadi peserta Piala Eropa yang kini sedang berlangsung di Polandia dan Ukraina. Polandia sendiri dianggap sebagai negara Eropa yang bisa menangkal krisis, bahkan tergolong negara yang mempunyai pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang tinggi di eropa.

Jurus BI menerbitkan deposito berjangka valas ternyata relatif ampuh. Bank Devisa pun memburu instrumen keuangan baru tersebut dalam operasi pasar.  Siaran pers BI tanggal 13 Juni 2012 berjudul: “Lelang Term Deposit Valas Mengalami Oversubscribed” menyebutkan bahwa dari target lelang sebesar USD 700 juta, jumlah penawaran yang masuk mencapai USD 1.615 juta. Dari total penawaran yang masuk tersebut, dimenangkan sesuai dengan target yaitu sebesar USD 700 juta yang terdiri dari tenor 7 hari sebesar USD 550 juta dengan suku bunga rata-rata tertimbang 0,16709% dan tenor 14 hari sebesar USD 150 juta dengan suku bunga rata-rata tertimbang 0,18000%.

Lakunya deposito berjangka valas setidaknya menambah pasokan valuta asing, atau bisa meningkatkan cadangan devisa, yang per 31 Mei 2012 mencapai USD 111,5 miliar, atau cukup untuk memenuhi 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Pada kurun waktu 12 bulan terakhir, cadangan devisa cenderung menurun, setelah pada Agustus 2011 sempat menyentuh USD 124,6 Milyar. Jelas situasi tersebut cukup membuat BI khawatir sehingga terus mengeluarkan jurus-jurus baru dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini.

Perkembangan cadangan devisa 12 bulan terkahir dalam Jutaan USD (sumber data: Bank Indonesia)

Kondisi ideal bagi BI adalah cadangan devisa semakin bertambah yang berasal dari peningkatan pasokan atau penawaran valas seiring dengan penurunan permintaan valas. Peluncuran deposito berjangka valas setidaknya menjadi sinyal optimisme BI dari sisi penawaran, walaupun itu tidaklah cukup seandainya permintaan valas semakin deras.

Pasokan devisa idealnya berasal dari kegiatan ekspor atau penanaman modal asing di sektor riil, bukan bersifat hot money. Namun jika boleh memilih, saya lebih menyukai lewat peningkatan ekspor, atau mengurangi ketergantungan impor. Bukankah kita kadang khawatir dengan perusahaan atau investor asing yang makin menguasai berbagai sektor perekonomian Indonesia? Memang devisa mengalir deras, namun percuma saja jika investor lokal cuma bisa gigit jari, atau hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Jadi, genjot ekspor Indonesia agar timbunan devisa makin menggunung di negeri ini.

Sisi permintaan devisa justru perlu lebih dicermati karena bisa dipengaruhi oleh persepsi masyarakat, misalnya kepercayaan (ketidakpercayaan) pada situasi perekonomian Indonesia terkini dan nanti. Jika masyarakat dan dunia usaha makin percaya dengan kondisi perekonomian Indonesia maka gejolak rupiah bisa diredam. Pelarian devisa milik pribumi pun tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Kini penimbun devisa – baik peorangan dan bank – mulai tergoda memarkir dana di BI, walau terkesan itu karena iming-iming bunga atau dipaksa oleh BI, bukan demi nasionalisme semata.

Permintaan valas bisa ditekan jika laju impor bisa ditekan, apalagi jika impor tersebut membuat Indonesia semakin tergantung kepada produk luar negeri. Produk makanan dan minuman sehari-hari, pun pakaian atau peralatan elektronik dan rumah tangga makin membanjiri negeri ini. Ketika masyarakat masih menyukai produk luar, atau produk lokal kalah bersaing, maka permintaan valas dari kegiatan impor akan meningkat.

Kalau toh nasionalisme akhirnya menjadi benteng terakhir – walau masih kita bisa berdebat tentang hal ini, jargon klise di masa lalu kayaknya masih relevan untuk dikumandangkan: Aku Cinta (Produk) Indonesia.

Btw, nasionalisme demi stabilitas rupiah memang mengada-ada, atau mempersempit makna nasionalisme itu sendiri. Namun, sebagian besar pemerintahan di dunia kadang menghimbau warganya untuk mengendalikan prilaku konsumsinya agar bisa berkontribusi dalam memulihkan kondisi perekonomian yang terpuruk. 

Tulisan terkait:

Kebijakan Moneter, BI Keteter?

Rupiah Melorot BI Melotot

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

Leave a Reply