Graha Pena Gunadarma

Menyoal Peran BPR

May 11th, 2012 | by | in Ekonomi, Headline | 1 Comments

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) itu bank seperti lazimnya bank umum, namun memiliki kekhususan yakni melayani keperluan masyarakat di wilayah pedesaan dan usaha mikro kecil (UMK) dalam bentuk simpanan (tabungan dan deposito) dan kredit. BPR tidak dapat menerbitkan cek dan bilyet giro seperti bank umum. Wilayah operasional BPR pun terbatas hanya dalam lingkup satu propinsi

Cover Buku ”Model Bisnis BPR” yang dipublikasikan BI

Kalimat di atas dikutip dari buku ”Model Bisnis BPR” yang dipublikasikan secara online oleh BI pada tanggal 5 Desember 2011. Mengacu ke fungsi BPR tersebut, pertanyaannya adalah apakah saat ini BPR sudah berhasil melayani keperluan masyarakat di pedesaan dan usaha mikro dan kecil? Mari kita lihat dulu statistik BPR konvensional yang dirilis oleh BI di sini.

Jumlah BPR sampai Maret 2012 mencapai 1665 BPR, atau cenderung menurun dibandingkan Maret 2011 yang tercatat sebanyak 1679  atau Maret 2010 sebanyak 1,719. Walaupun dari sisi jumlah menurun, aset BPR meningkat terus selama dua tahun terakhir. Per Maret 2012, total aset BPR konvensional sebanyak Rp 47,6 Triliun, sumber dana Rp 38,4 Triliun, dan penempatan dana Rp 45,7 Triliun. Jumlah nasabah sebanyak 11,654,618 orang, termasuk 3,075,557 orang debitur atau peminjam.

Penurunan jumlah BPR bisa menjadi tanda-tanya. Penurunan bisa terjadi karena makin banyak BPR yang ditutup atau bangkrut. Penutupan atau kebangkrutan tersebut menjadi sinyal bahwa bisnis keuangan melalui BPR tidak menunjukkan kinerja atau prospek yang menjanjikan. Padahal pada tahun 2006 jumlah BPR pernah mencapai 1880 BPR.

Kinerja BPR memang tergolong memprihatinkan, minimal dilihat dari NPL (Non Performing Loan) dan bunga kredit yang tergolong mencekik. Mari kita lihat dua indicator tersebut berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia edisi Februari 2012 yang dipublikasi BI di sini.

NPL BPR per Februari 2012 tercatat sebesar 5,57 persen, atau meningkat dibandingkan posisi Desember 2011 sebesar 5,22 persen. Jumlah kredit berdasarkan tingkat kolektibilitasnya adalah  kredit lancar sebanyak Rp 40118 Milyar, Kurang Lancar Rp 651 Milyar, Diragukan Rp 424 Milyar serta kredit macet Rp 1292 Milyar.

BPR menawarkan suku bunga rata-rata tabungan sebesar 5.08% sedangkan deposito sebesar 9,47 persen. Bunga rata-rata tersebut jauh lebih besar dibandingkan bank umum. Artinya, BPR terpaksa bersaing dengan bank umum dalam memperebutkan dana masyarakat melalui iming-iming bunga simpanan tinggi. Namun salah satu akibatnya,  bunga kredit BPR menjadi jauh lebih tinggi lagi, yaitu 31,98 persen untuk kredit modal kerja, 28,33 persen kredit investasi, dan 27,12 persen kredit konsumsi.

Apakah masyarakat pedesaan atau pelaku usaha kecil dan mikro mau meminjam ke BPR dengan bunga kredit setinggi itu? Kalau pun mau, sungguh sulit membayar cicilannya jika hasil usahanya tidak lebih besar dari bunga kredit tersebut. Bunga kredit tinggi ini patut diduga sebagai salah satu penyebab meningkatnya NPL BPR. Lagian, daripada meminjam ke BPR, masyarakat lebih baik meminjam ke bank umum saja yang bunga kreditnya jauh lebih rendah, yaitu 11,83 persen untuk kredit modal kerja, 11,29 persen untuk kredit investasi, dan 12,90 persen untuk kredit konsumsi.

Jika harus bersaing dengan bank umum, jelas BPR bisa hancur lebur, walaupun mereka diberi kekhususan untuk melayani masyarakat pedesaan dan pelaku Usaha Mikro dan Kecil. Toh tidak ada larangan bagi masyarakat pedesaan atau pelaku usaha mikro dan kecil untuk menyimpan dan meminjam ke bank umum. Masalahnya adalah ketika mereka hanya bisa berhubungan dengan BPR saja – misalnya karena akses ke bank umum sulit – maka bunga kredit BPR yang tinggi siap menjerat masyarakat pedesaan dan pelaku usaha mikro dan kecil.

BI jelas tidak tinggal diam dengan kinerja BPR yang cenderung menurun. Saat ini BI sudah meluncurkan dua buka tentang BPR yaitu ”Model Bisnis BPR” dan “Generic Model- Apex BPR”. Mudah-mudahan penerbitan buku tersebut menjadi titik balik peningkatkan kinerja BPR di masa datang.

Cover Buku ”Generic Model – APEX BPR”

Jika usaha tersebut tidak berhasil, BPR bukan saja gagal mendukung masyarakat pedesaan atau usaha mikro dan kecil, namun BPR tidak lebih dari lintah darat yang menjerat para debitur dengan bunga tinggi.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

One Response to “Menyoal Peran BPR”

Leave a Reply