Graha Pena Gunadarma

Membangun Pertanian Ala Dahlan Iskan

April 5th, 2012 | by | in Berita, Headline | 4 Comments

Menteri BUMN Dahlan Iskan didapuk menjadi pembicara kunci pada acara System Expo yang diselenggarakan di Botani Square yang bersebelahan dengan Kampus IPB di Baranang Siang Bogor.  Para Guru Besar, pakar, praktisi, dan undangan pun hadir di ruang IPB International Convention Center pada hari Kamis (4/4/2012). Acara sudah dimulai sebelum jam 9 yang diawali dengan sambutan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto. Agenda memang dipercepat karena Pak Dahlan Iskan hanya mempunyai waktu sebentar saja.

Menteri BUMN Dahlan Iskan (dokumentasi pribadi)

Walaupun hanya sebentar, sambutan Dahlan Iskan tetap memukau dan mendapat sambutan meriah. Apalagi topik yang dibahasnya adalah masalah pertanian yang pasti menjadi “makanan” sehari-hari dari sebagian besar undangan, termasuk pimpinan, guru besar, dan dosen IPB.

Ada beberapa topik bahasan yang menarik. Pertama, Dahlan Iskan berpendapat bahwa para petani cenderung tidak terangsang untuk menjadikan sawahnya semakin produktif. Kondisi tersebut disebabkan sawah relatif tidak menjadi penentu utama sumber penghasilannya. Argumentasinya adalah semakin banyak petani saat ini yang lebih mengandalkan pemberian uang atau bantuan finansial dari anak-anaknya yang telah bekerja, namun bukan di sawah seperti orangtuanya.

Produktifitas pertanian memang menjadi perhatian utama Pak Dahlan. Beliau pun memastikan bahwa BUMN pun mulai terlibat dalam program Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (BP3K). Ya, pengelolaan sawah tidak lagi bersifat individual dengan cara tradisional, namun dengan cara bisnis seperti halnya perusahaan di sektor lain. BUMN pun mulai menggarap ratusan ribu hektar sawah, termasuk 100 Ribu Hektar di Kalimantan Timur untuk mendukung program BP3K.

Kedua, Dahlan Iskan menyinggung soal masalah alat atau mesin pertanian. Menurutnya, alat tersebut masih tidak sesuai dengan kebutuhan atau keinginan para petani. Petani menginginkan alat yang multi-fungsi, misalnya seperti perontok gabah sekaligus sebagai pemotong untai padi dan pembersih batang padinya juga. Apalagi jika alat tersebut digerakkan oleh mesin dengan bahan bakar yang terbarukan. Setidaknya itulah yang menjadi harapan Dahlan Iskan, yang juga berharap banyak Indonesia tidak tergantung pada alat atau mesin pertanian yang diimpor dari China.

Ketiga, Menteri BUMN yang fenomenal ini juga menyoroti masalah pengeringan dan penyimpanan hasil pertanian. Dahlan Iskan kemudian mengkaitkan masalah tersebut dengan aspek pergudangan yang saat ini banyak dimiliki oleh institusi. Dahlan berharap pengelolaan gudang ini bisa satu atap walaupun kepemilikannya berbeda lembaga. Konsep tersebut dihubungkan dengan keberadaan Resi Gudang dan Kliring Berjangka yang dinilai belum optimal. Perdagangan komoditas pertanian melalui dua dua fasilitas tersebut memerlukan pasokan produksi yang kontinyu, termasuk aspek penyimpanannya di gudang.

Keempat, Menteri BUMN yang mantan Dirut PLN tersebut juga melontarkan gagasan penyebaran sapi di areal perkebunan sawit. Gagasan tersebut dilandasi dengan ketergantungan Indonesia terhadap sapi impor, yang mencapai 350 Ribu ekor. Menurutnya, para peternak cenderung kurang bergairah beternak sapi karena margin keuntungannya relatif kecil. Salah satu faktor penyebabnya adalah harga pakan yang mahal, dikuasai oleh asing pula. Padahal, sapi bisa makan gratis di areal kebun sawit. Dahlan Iskan pun berencana menyebar 100 ribu sapi di perkebunan sawit yang dikelola oleh perusahaan BUMN.

Terakhir, Dahlan Iskan menantang para mahasiswa menemukan teknologi pembuat butir dari sagu. Hadiahnya pun menggiurkan: sebuah mobil. Sayembara tersebut dihubungkan dengan rencana pendirian pabrik Sagu di Sorong yang akan dilengkapi pelabuhan laut besar di wilayah timur Indonesia. Jika pabrik itu terealisasi, maka distribusi butir sagu pun bisa mendongkrak efisiensi moda angkutan ke wilayah timur. Selama ini, angkutan tersebut selalu penuh barang pada saat berangkat, namun pulang dengan kosong. Padahal biayanya relatif sama. Jika pabrik sagu sudah beroperasi, bisa jadi angkutan pada saat pulang atau balik ke Jakarta bisa memuat karung berisi butir-butir sagu.

Suasana acara di IPB International Convention Center (Dokumentasi pribadi)

Kita tunggu saja kiprah Dahlan Iskan di sektor pertanian. Semoga semua harapan atau rencana programnya berhasil membangun kembali sektor pertanian Indonesia.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

4 Responses to “Membangun Pertanian Ala Dahlan Iskan”

  1. ahmad c tridakusumah says:

    mohon info untuk sayembaranya menghubungi kemana ya pak?

    • Budi Hermana says:

      Wah, saya kurang tahu juga pengumuman resminya, Pak Dahlan menyampaikannya secara lisan saat orasi di IPB. Mungkin bisa menghubungi FEM-IPB, atau cari informasi di websitenya BUMN.

      Selamat mencoba ikut lomba. Tapi, mungkin Mas Ahmad langsung buat saja dulu kali ya :)
      Terima kasih, salam

Leave a Reply