Graha Pena Gunadarma

Mampukah Perguruan Tinggi Dongkrak Daya Saing?

March 30th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 2 Comments

Mutu pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari seberapa banyak jumlah publikasi dosen atau seberapa banyak mahasiswa di kampus. Sayangnya kadang kita berdebat bagaimana cara mengukur mutu dunia pendidikan tinggi. Selalu ada persepsi dan perspektif yang berbeda saat kita menyoal peran atau kontribusi perguruan tinggi.

Kita pun pernah mendengar peringkat akreditasi perguruan tinggi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT) atau lembaga pemeringkatan PT tingkat international seperti Academic Ranking of World Universities, QS, THES, Webometrics, 4ICU, dll. Namun, pemeringkatan tersebut – dengan asumsi bahwa peringkat tersebut identik dengan indikator mutu – mengukur mutu kampus secara individual, bahkan di antaranya hanya menilai satu atau beberapa aspek pendidikan saja, tidak komprehensif.

Kali ini saya akan menelisik peran pendidikan tinggi secara nasional terhadap peningkatan daya saing nasional. Sudut pandang ini diilhami oleh pernyataan visi dan misi ditjen DIKTI yang tertuang dalam Rencana Strategis Ditjen DIKTI 2010-2014.

OK, itu mimpi Ditjen DIKTI yang ingin diraih pada tahun 2014 nanti. Pertanyaannya adalah, bagaimana posisi daya saing Indonesia di tingkat global saat ini, dan, seberapa besar kontribusi DIKTI terhadap posisi daya saing Indonesia?

Saya menggunakan Global Competitveness Report (WCR) Edisi 2011-2012 yang dirilis oleh World Economic Forum.  Indonesia menempati peringkat 46 dari 142 negara. Posisi tersebut melotor 2 tingkat dibandingkan edisi sebelumnya. Di wilayah ASEAN Indonesia masih kalah sama Singapura, Malaysia, Brunei Darusalam, dan Thailand yang menempati peringkat 2, 21, 28, dan 39. Indonesia termasuk negara yang baru mencapai tahap 3 (dari lima tahap) yaitu Efficiency Driven bersama 27 negara lainnya.

Peringkat negara dihitung berdasarkan Global Competitiveness Index (GCI) dengan menggunakan menggunakan 111 indikator yang dikelompokkan dalam 12 pilar. Salah satu pilarnya adalah pendidikan tinggi dan pelatihan. Kita lihat skor indeks Indonesia untuk masing-masing pilar tersebut dan perbandingannya dengan kelompok negara yang  masuk tahap efficiency driven.

Pilar pendidikan tinggi menggunakan 8 indikator, yaitu (1) Secondary education enrollment, (2) Tertiary education enrollment, (3) Quality of the educational system, (4) Quality of math and science education, (5) Quality of management schools, (6) Internet access in schools, (7) Availability of research and training services, dan (8) Extent of staff training. Berikut peringkat Indonesia dan negara ASEAN lainnya untuk masing-masing indikator.

Selain indikator pada pilar pendidikan tinggi, peran kampus pun bisa dilihat dari tingkat inovasi yang menjadi pilar penilaian tersendiri. Setidaknya 4 dari 7 indikator inovasi secara tidak langsung berhubungan dengan peran perguruan tinggi, yakni  (1) Quality of scientific research institutions,(2) University-industry collaboration in R&D, (3) Availability of scientists and engineers, dan (4) Utility patents granted/million population.

Itulah posisi daya saing Indonesia, khususnya kontribusi DIKTI dilihat dari indikator pada pilar ke-5 dan ke-12 pada pehitungan WCI edisi 2011-2012. Rasanya Ditjen DIKTI pun sudah tahu itu, bahkan berambisi bisa menaikkan peringkat indikator yang menjadi ukuran kinerjanya. Berbagai kebijakan dan program pun sudah diluncurkan oleh Ditjen DIKTI, di antaranya adalah:

  1. Kebijakan unggah karya ilmiah dosen terkait dengan pengusulan jenjang jabatan akademik, kebijakan unggah karya ilmiah dosen dan mahasiswa, dan kewajiban membuat makalah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan.
  2. Pendirian Akademi Komunitas setingkat D1 dan D2 di daerah untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi.
  3. Pemberian beasiswa kepada dosen untuk studi lanjut ke jenjang S2 dan S3 baik  di dalam negeri maupun di luar negeri, serta beasiswa Bidik Misi untuk mahasiswa berprestasi yang kurang mampu secara finansial.
  4. Desentralisasi sebagian dana riset agar PT lebih responsif dan fleksibel menjawab perubahan dan tantangan. Beberapa kampus pun menjadi kampus utama dan mandiri yang mendapat anggaran riset tersendiri untuk dikompetisikan secara internal.
  5. Pemberian program hibah kompetitif untuk mendorong unggulan perguruan tinggi, yaitu Hibah World Class University, Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi tema C dan D.
  6. Program hibag untuk mendorong inovasi dan kreativitas, misalnya Hibah Kompetensi , Hibah perolehan paten, dan Program Kreativitas Mahasiswa
  7. Prorgam Hibah untuk menuntut output yang tangible dan berkualitas, misalnya insentif UBER-HAKI, Publikasi di reputable journal, dan Buku ajar.
  8. Program hibah untuk mendorong sinergi dengan daerah yang tertuang pada beebraka skim hibah pengandian kepada masyarakat, serta yang terbaru program Hibah prioritas Nasional terkait dengan MP3EI.
  9. Program hibah untuk mendorong sinergi dengan industri, yaitu RAPID dan Hi-Link.
  10. Program hibah untuk penguatan ICT untuk pendidikan tinggi, misalnya Inherent/Global Development Learning Network dan Hibah ICT

Sanggupkan kebijakan dan program Ditjen DIKTI tersebut bisa meningkatkan posisi Indonesia pada Global Competitiveness Report tahun 2014? Kita tunggu saja nanti. Tidak ada salahnya terus berharap mimpi itu bisa diraih. Dan saya mempunyai keyakinan bahwa itu bisa terwujud, walau tidaklah mudah karena selalu ada ketidaknyamanan dan kekurangan di lapangan.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

2 Responses to “Mampukah Perguruan Tinggi Dongkrak Daya Saing?”

Leave a Reply