Graha Pena Gunadarma

Jurnal Jadi Syarat Lulus, Setuju?

April 17th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 33 Comments

Salah satu kebijakan dari Dirjen DIKTI yang menuai kontroversi adalah kewajiban membuat makalah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan di program sarjana dan pascasarjana. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran DIKTI Nomor SK : 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 yang naskah lengkapnya dapat dilihat di sini.

Surat Edaran Dirjen DIKTI yang menuai kontroversi

Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra, lengkap dengan perdebatan seru di kalangan civitas akademika dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Mari kita lihat sekilas alasan atau argumentasi dari masing-masing kubu.

Kubu pro sangat mendukung kebijakan ini karena tanpa ada paksaan, mahasiswa tidak akan pernah membuat makalah. Kadang “tangan besi“ membuat kita tidak cengeng atau bisa berupaya dengan keras, walau mungkin terpaksa. Dengan kerja keras, termasuk dengan membuat makalah, maka mahasiswa ditempa dengan etos dan budaya ilmiah. Lagian, sumber pembuatan makalah pun bisa diambil dari riset kecil-kecilan, apalagi dari hasil tugas akhir atau skripsi. Intinya, jika tidak dipaksa, mahasiswa justru dininabobokan dan terlena. Padahal negara lain sudah lari dalam hal jumlah publikasi, termasuk Malaysia yang dijadikan rujukan dalam surat edaran Dirjen DIKTI tersebut.

Selain itu, kubu pro merasa bahwa perguruan tinggi adalah pabrik riset dan publikasi, bukan pabrik sarjana semata. Saat ini, masyarakat sering mempertanyakan peran perguruan tinggi dalam memberdayakan dan menerapkan IPTEKS demi pembangungan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kampus pun dianggap menara gading yang terisolasi dari masyarakat. Dan salah satu cara mengatasi tuduhan tersebut adalah melalui penyebaran IPTEKS berupa makalah dalam jurnal ilmiah.

Namun, pihak yang berseberangan, yakni kubu kontra tidak kalah sengitnya menolak kebijakan tersebut. Argumentasi atau alasannya pun masuk akal. Satu pertanyaan yang dilontarkan oleh kubu kontra: Apakah menulis makalah menjadi jaminan bahwa lulusannya bisa bekerja dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat? Jika tidak, untuk apa buat makalah. Namun kubu kontra tidak menganggap makalah itu tidak penting, namun keharusan tersebut belum menjadi priorotas, atau masih banyak masalah pendidikan tinggi lainnya yang perlu dibenahi.

Pertanyaan lainnya dari kubu kontra: Apakah sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk memuat makalah tersebut sudah memadai? Mutu perguruan tinggi itu sangat beragam, termasuk kemampuannya dalam mengelola jurnal. Jika sarana dan prasarana tersebut tidak memadai, maka kebijakan tersebut bisa menjadi bottle neck. Jadi yang lebih prioritas didahulukan adalah peningkatan budaya ilmiah, termasuk peningkatan kemampuan metodologi dan publikasi ilmiah bagi perguruan tinggi yang secara mayoritas tidak sama seperti PTN-PTN ternama di Indonesia yang sedikit jumlahnya.

Andaikan kebijakan itu dipaksakan, kubu kontra membuat kalkulasi berapa jumlah makalah yang dihasilkan selama setahun oleh ratusan ribu lulusan. Apakah jumlah jurnal ilmiah saat ini bisa menampungnya. Okelah, setiap perguruan tinggi memang bisa menerbitkan jurnal ilmiah seperti penjelasan Dirjen DIKTI dan Mendiknas sesudah SE itu menuai pro dan kontra. Namun, lagi-lagi, apakah upaya penerbitan jurnal itu bisa dilakukan oleh 3000 lebih PT di Indonesia, dengan segala permasalahannya. Yang dikhawatirkan oleh kubu kontra adalah munculnya jurnal abal-abal, atau para pembuat jasa makalah- atau sering disebut sebagai ghost writer atau shadow scholar- muncul bergentayangan. Kondisi tersebut justru kontraproduktif terhadap upaya membangun etika ilmiah di dunia kampus.

Singkat kata, niat baik belum tentu berdampak baik jika faktor lainya tidak dipertimbangkan. Kewajiban membuat makalah sebenarnya tidak dipermasalahkan oleh kubu kontra jika diberlakukan untuk mahasiswa tingkat master dan doktor. Pemberlakukannya untuk lulusan sarjana setidaknya perlu ditunda karena masih banyak masalah lain yang lebih mendesak untuk dibenahi di perguruan tinggi.

Begitulah pro dan kontra menyoal kewajiban membuat makalah sebagai syarat kelulusan. Bagaimana pendapat Anda?

Bagaimana jika karya ilmiah dosen dan mahasiswa wajib online? Silakan baca di sini.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Rumah Pena → Redaksi Rumah Pena

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pena.gunadarma.ac.id

33 Responses to “Jurnal Jadi Syarat Lulus, Setuju?”

  1. Akhmad Fauzi says:

    Mahasiswa tingkat akhir adalah mahasiswa yang harus siap menempuh dunia Industri dan kerasnya persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

    Pembuatan jurnak untuk syarat kelulusan merupakan salah satu dari seribu hal kecil yang seudah selayaknya mahasiswa dapat membuktikannya kepada masyarakat.

    Seharusnya tidak hanya membuat jurnal, tapi membuat sebanyak-banyaknya gudang prestasi, serta mendapatkan sebanyak-banyaknya skill yang diterima selama perkuliahan adalah syarat wajib utama sebagai pembuktian bahwa mereka berhak dan pantas untuk mendapatkan sebuah gelar.

  2. Akhmad Fauzi says:

    Mahasiswa tingkat akhir adalah mahasiswa yang harus siap menempuh dunia Industri dan kerasnya persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

    Pembuatan jurnal untuk syarat kelulusan merupakan salah satu dari seribu hal kecil yang sudah selayaknya mahasiswa dapat membuktikannya kepada masyarakat.

    Seharusnya tidak hanya membuat jurnal, tapi membuat sebanyak-banyaknya gudang prestasi, serta mendapatkan sebanyak-banyaknya skill yang diterima selama perkuliahan adalah syarat wajib utama sebagai pembuktian bahwa mereka(mahasiswa tingkat akhir) berhak dan pantas untuk mendapatkan sebuah gelar.

    • Budi Hermana says:

      PI dan skripsi di Universitas Gunadarma bisa menjadi bahan untuk makalah atau artikel ilmiah. Saya meyakini banyak topik PI dan skripsi yang menarik dan layak untuk dipublikasikan, bahkan di junral international sekalipun.

      Gelar memang bukan segala2nya, yang jauh lebih penting adalah kemampuan dan kiprah lulusan PT bisa diterrima oleh masyarakat

  3. Bukan berkata buruk, tetapi entah mengapa Indonesia memang negara ‘pecut’. Kakek saya pernah berkata, kalau tidak di-pecut, tidak bergerak negara ini.

    Tidak usah jauh lihat ke Malaysia, mari lihat kebijakan yang lebih dekat, seperti kebijakan konversi Kerosin (minyak tanah) ke Gas, tentu awalnya kecaman banyak dilontarkan seperti sarana-prasarana, tetapi setelah berjalan justru menciptakan iklim kebumian dan keberdayaan yang lebih baik.

    Sama halnya dengan kebijakan ini, saya berpendapat jika tidak dimulai sekarang, lalu kapan lagi? Jika kita mau menunggu sarana-prasarana, mau sampai kapan? Saya hanya mengingatkan bahwa jumlah universitas (paling tidak kampus) terus meningkat secara progresif. Seperti diulas ada 3000 universitas, dalam 5 tahun ke depan, angka tersebut bukan tidak mungkin tidak menyentuh 5000.

    Akhir kata, sarana-prasarana dapat dikayuh secara bertahap. Tapi niat, tidak begitu, dia harus dilakukan sekarang atau tidak sama sekali.

    • Budi Hermana says:

      Otoriter atau pemaksaan tidak selalu buruk, asal sesuai dengan kondisi dan situasi. Kadang pada satu kesempatan, kebijakan yang keras atau memaksa bisa efektif. Namun, untuk kewajiban pembuatan makalah ilmiah ini, apakah pemerintah sudah melihat dari berbagai sudut pandang? Hmm, menarik jika telisik lebih jauh ya :)

  4. Menurut saya kelulusan tidak hanya dilihat pada penulisan jurnal ilmiah saja, tetapi mahasiswa diberi bekal gambara untuk bekerja secara nyata dengan kerja nyata yang mengharuskan mahasiswa melakukan riset saat bekerja di sebuah perusahaan yang dia tempati. Selain memberi bekal akan dunia kerja, juga dapat memberikan gambaran tentang penulisan yang akan dia tulis nantinya dari kegiatan yang dia lakukan selama kerja nyata.

    • Budi Hermana says:

      Ya, memang banyak faktor yang menentukan keberhasilan mahasiswaa saat masuk ke dunia kerja atau masyarakat. Gelar, IPK, dan embel2 akademis sebaiknya dilengkapi dengan kemampuan, ketrampilan, atau wawasan yang sesungguhnya ada dalam setiap mahasiswa. Industri dan masyarakat lah yang menjadi juri akhir tentang kepantasan seorang lulusan PT. Pembuatan makalah pun tidak harus ditakuti, walau mungkin perlu sarana dan kerja keras dari mahasiswa, termasuk dosennya juga.

  5. Chairunnisa says:

    Saya setuju dengan edaran dikti apabila membuat jurnal menjadi salah satu syarat kelulusan karena dengan kita belajar untuk menulis jurnal itu akan melatih kita untuk membuat suatu tulisan yang nantinya akan bermanfaat bagi banyak masyarakat dan menghindarkan kita dari budaya plagiat,seperti waktu saya menghadiri acara talk show yang ada di kampus gunadarma sendiri ,dengan tema competency for industries dan salah satu pengisi acaranya sendiri juga memang salah satu dosen di gunadarma,dan beliau bilang “kita tidak perlu takut dengan edaran dikti tentang membuat jurnal menjadi salah satu syarat lulus karena memang sudah lama gunadarma mempersiapkan hal tersebut dengan cara S1 selain membuat skripsi pada semester 6 pun harus membuat penulisan ilmiah “. Jadi kita sebagai mahasiswa gunadarma tidak perlu takut dengan hal tersebut.

    • Budi Hermana says:

      Tinggal mencoba bagaimana PI dan Skripsi tersebut dijadikan makalah atau artikel ilmiah yang layak masuk jurnal ilmiah, baik nasional maupun international ya.
      Pertanyaannya, apakah jumlah jurnal ilmiah saat ini bisa menampungnya? :)

  6. Saya setuju dengan kebijakan pemerintah tentang menjadikan pembuatan jurnal sebagai syarat lulus mahasiswa.

    Mengapa?

    Mahasiswa bukan sekedar menjadi sebuah tameng yang menjadikan diri terlihat lebih spesial di kehidupan bermasyarakat. Mahasiswa merupakan seseorang yang sudah sepatutnya memiliki daya nalar dan intelegensi yang tinggi. Dan dalam hubungannya dengan Jurnal, seharusnya pembuatan jurnal tidak dijadikan permasalahan di kalangan mahasiswa. karena menjadi mahasiswa bukan hanya lulus dan mendapatkan pekerjaan. Tetapi juga harus memiliki daya tarik melakukan penulisan dalam berkreasi dan berinovasi. Saya mengutip kalimat dalam novel yang menyinggung soal pentingnya tulisan, bahwa dalam pandangan peradaban, tulisan, literasi dan ide merupakan ukuran-ukuran peradaban maju yang jarang sekali terlihat. Dalam rangka memperlihatkan kesetaraan inteligensi dengan dunia, kemampuan mengekspresikan ide dengan tulisan adalah sebuah bukti mutlak bangsa berperadaban tinggi. Semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis. Memiliki budaya literasi. Tanpa hal tersebut, bangsa tersebut akan punah dimakan zaman. Tanpa budaya menulis, sebuah negara akan selalu dianggap sebagai negara yang terbelakang.

    Mungkin dari pernyataan tersebut kita bisa mereka-reka kenapa negara Indonesia ini masih bertahan sebagai Negara Berkembang? dan tidak menjadi Negara Maju? itu karena dari sekian banyak masyarakat Indonesia, sangat sedikit persentasenya yang berpartisipasi dalam membuat tulisan. Bahkan sudah dibanding-bandingkan dengan Negara Malaysia yang merupakan negara berkembang bahwa persentase total pembuatan Jurnal negara Malaysia lebih besar daripada Indonesia. untuk itu, mau sampai kapan kita akan menjadi negara terbelakang?

    Menulis jurnal pun bisa membantu masa depan mahasiswa ke depannya, karena mahasiswa bisa mencantumkan hasil tulisan jurnalnya tersebut ke portofolio yang mana akan menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang merekrutnya. Dengan menulis jurnal juga bisa dibuktikan, mana mahasiswa yang benar-benar mahasiswa, dan mana mahasiswa yang hanya mementingkan gelar semata.

    Terima Kasih :)

  7. Lina Estiana says:

    Mungkin jurnal ilmiah bisa menjadi salah satu faktor untuk melihat mutu dari mahasiswa dan bisa menjadi karya orisinil yang bisa bermanfaat kelak untuk dirinya maupun sekitarnya. Namun, tulisan saja sepertinya tidak bisa menjadi bukti bahwa seorang mahasiswa mampu bersaing di dunia kerja nantinya. Pada nyatanya praktek di lapangan lah yang bisa membuktikan. Menurut saya daripada mengharuskan mahasiswa membuat banyak penulisan-penulisan, kenapa tidak memilih untuk mengharuskan mahasiswa lebih giat untuk aktif di berbagai organisasi ataupun internship-internship di berbagai instansi, dari situlah sebenarnya karakter kemampuan mahasiswa akan terlatih, dimana bisa terlatih kepemimpinannya, team work nya dan bersosialisasi dengan banyak orang.

  8. Isram Rasal says:

    Menulis ilmiah bukan hal yang asing lagi di Gunadarma, apalagi di program SarMag (Sarjana Magister). Hampir semua dosen yang mengajar di setiap semester selalu menugaskan mahasiswa SarMag, khususnya SarMag TI (teknik informatika) untuk menulis ilmiah.

    Menulis ilmiah memang tidak mudah, namun tidak sulit. Yang sulit ketika menulis adalah ketika kita belum mempunyai produk/gagasan apa yang ingin ditulis. Ketika produk/gagasan sudah tersedia, niscaya menulis akan semakin mudah. Selain produk/gagasan, alasan mahasiswa enggan untuk menulis ilmiah karena tidak tahu format untuk menulis ilmiah, nyatanya setiap paper conference, paper jurnal nasional dan internasional jika dilihat dari format penulisan tidaklah banyak perbedaan.

    Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan menulis ilmiah, sebagai pengalaman pribadi yaitu ketika semeter 4, beberapa paper dari kelas kami diterima untuk mengkuti conference SENTI UGM, maka kelas SarMag TI diberangkatkan untuk mengikuti conference SENTI (seminar nasional teknik industri) di UGM yogyakarta. Dari conference itu kami mendapatkan pengalaman berupa seminar yang tidak hanya membahas satu bidang saja, melainkan membahas berbagai bidang namun masih dalam satu koridor. Dari pengalaman itu nampak jelas manfaat adanya penulisan ilmiah, terlebih lagi jika tulisan itu diwadahi dalam bentuk prosiding kemudian dipresentasikan kepada khalayak ramai.

    Tidak lama setelah conference di UGM, saya kembali dikirim ke conference SRITI (seminar nasional riset teknologi informasi) oleh STMIK AKAKOM yogyakarta. pada kesempatan itu pula saya lagi-lagi mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai harganya, bertemu dengan akademisi dari berbagai instansi dan teman teman mahasiswa lainnya.

    Terbukti, dengan menulis ilmiah kemampuan mahasiswa bisa dilatih, bagaimana menulis yang baik, kepemimpinan dalam sebuah tim, berbicara di depan umum (presentasi) dan menjalin hubungan dengan akademisi yang lainnya.

    Alhamdulillah, pada bulan April ini saya, beberapa teman saya dan dosen di Gunadarma membuat tulisan ilmiah dan diterima di IJCNWC (International Journal of Computer Networks and Wireless Communications). Ini menandakan bahwa kualitas penulisan ilmiah buatan mahasiswa Gunadarma sudah diakui di level nasional dan internasional, jadi tidak ada lagi alasan mahasiswa Gunadarma untuk tidak menulis tulisan ilmiah…

    Menulis itu mudah dan mengasyikan, menulis ilmiah itu bermanfaat dan barokah…

    • Budi Hermana says:

      Semoga semangat dan pengalamannya bisa ditularkan ke teman-teman yang lain, ya Isram :) Bisa karena biasa lebih baik daripada bisa karena dipaksa atau terpaksa ya hehehe

  9. Yudi Kurnia says:

    Menurut saya pribadi Artikel atau karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal, merupakan rangkuman dari apa yang dibahas dalam skripsi atau tugas akhir mahasiswa sehingga tidak sulit untuk melakukannya, apalagi jika nantinya penulisan dan publikasi karya ilmiah sudah menjadi tradisi akademik di Indonesia. Mahasiswa menempuh pendidikan program strata 1 (S1) selama empat tahun, `masak` tidak bisa menulis artikel atau karya ilmiah. Kalau sudah jadi (karya ilmiah,tinggal memasukkannya dalam jurnal, boleh yang bersifat `hardcopy` atau jurnal `online`,” jadi saya setuju dengan jurnal sebagai syarat lulus ;D

    • Budi Hermana says:

      Atau, gimana kalo output PI tidak harus tebal berupa laporan ilmiah yang lengkap, tapi cukup membuat artikel berdasarkan hasil PI-nya ya hehehe

      Trims, salam

      • Yudi Kurnia says:

        ya harus tebel menurut saya ,karena di dalamnya banyak sekali penjelasan yang terkait masalah itu solusinya menurut saya di buat jurnal untuk menyimpulkan dari apa yang telah kita tulis menjadi suatu pemikiran yang sederhana :D
        salamm

        • Budi Hermana says:

          PI dan Skriosi memang tebal :) Tapi artikel pada jurnal ilmiah memang jauh lebih tipis, bahkan ada pengelola jurnal yang membatasi jumlah halamannya di bawah 10 halaman. Tantangannya adalah bagiaman membuat artikel yang padat dan berisi, walau tipis :) Ada perguruan tinggi yang merespon kebijakan tersebut dengan membuat tugas akhir mahasiswa langsung berupa artikel ilmiah, bukan laporan penelitia seperti skripsi :)

          Terima kasih, salam

          • Yudi Kurnia says:

            ia pak saya sependapat dengan membuat intinya saja namun isi sangat berbobot dan kena sasaran dari sebuah karya ilmiah, selain itu bisa menghemat kertas karena yang di butuhkan hanya beberapa lembar saja
            dan tentunya juga tidak boros kertas dan semakin berkurang pohon2 yang di tebang hanya untuk di jadikan olahan kertas..dengan arti lain bisa nyambung k goo green :D

  10. Bagi saya Jurnal bukanlah hal yang menakutkan, tetapi jurna bisa menakutkan bagi para calon sarjana yang belum mempunyai skill dibidang yang ditekuninya, jurnal merupakan suatu ajang untuk menunjukkan bahwa pendidikan di Indnesia sudah berkembang. jadi tetaplah berkarya. untuk nusa dan bangsa.

    • Rumah Pena Rumah Pena (Author) says:

      Mudah2an proses belajar-mengajarnya pun bisa menjadi ajang latihan berkomunikasi, baik lisan dan tulisan, termasuk latihan menyusun karya ilmiah ya :)

      Salam

  11. Hal yang perlu di benahi adalah , bagaimana kemampuan mahasiswanya dalam mendalami apa yang mereka pelajari selama ini, jurnal ilmiah memang suatu syarat untuk dapat menyelesaikan proses perkuliahan tapi bukan itu saja , kan dia juga harus menyelesaikan sidang dalam sidang ada penguji , apa sebenarnya yang dipermasalahkan ? sebenarnya para penguji melihat bahwa mahasiswa sudah layak untuk meraih kesarjanaanya. ya mungkin di lihat dari segi pendalaman materi atau hal yang mencakup dibidangnya dia mampu. untuk itu sebelum menyelesaikan kuliah m, anak didik dibina dulu dengan mengikuti training , kursus dan yang lainnya , karena manusia tidak mampu mengerjakan suatu pekerjaan yang mungkin bnelum dipelajarinya, dan tidak mungkin dia bisa mempelajari semua program studinya. pasti ada hal yang spesifik yang mungkin melalui penelitiannya dia menuangkan hal yang memang di kuasai dia , sehingga dia mampu terjun di dunia kerja. jadi jurnal penting juga untuk melatih dan sebagai bukti untuk meraih kesarjanaan.

    • Rumah Pena Rumah Pena (Author) says:

      Katanya, bisa karena biasa :) Jadi kalau sudah dibiasakan menulis, kita bisa lancar membuat karya ilmiah. Tinggal penguasaaan metode ilmiah dan keilmuannya. Selain bisa dibantu perkuliahan di kelas dan dosen pembimbing, kita bisa memanfaatkan waktu di luar kelas untuk membuat tulisan atau riset kecil-kecilan :)

      Terima kasih, salam

  12. Saya BELUM setuju dengan dijadikannya publikasi tulisan mahasiswa di jurnal sebagai syarat kelulusan. Kenapa ?

    Saya sepakat bahwa jika mahasiswa sering ‘dipaksa’ menulis suatu tulisan ilmiah, maka potensi mahasiswa akan semakin tergali, bisa jadi kualitas tulisannya dapat dijadikan sebagai syarat kelulusan dari perguruan tinggi.

    Dengan catatan mental menulisnya juga harus bagus, harus gigih mencari data yang akurat, menyajikannya ke dalam bahasa yang ilmiah namun informatif. Tidak cukup kalau menulis ilmiah hanya pas mau lulus saja. Menulis itu harus dibiasakan kalau mau tulisannya bagus.
    Kebiasaan menulis secara ilmiah harusnya sudah ditanamkan sejak di pendidikan dasar. Di negara-negara maju, anak usia SD saja sudah harus belajar mengungkapkan pendapatnya lewat tulisan.

    Tapi untuk mempublikasikannya di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan? Whew, lihat dulu. Ada berapa jumlah jurnal ilmiah di Indonesia? Apa sanggup mereka menyeleksi tulisan sebanyak jumlah mahasiswa di Indonesia ?Kalau jumlah jurnal ilmiahnya banyak, mungkin lain ceritanya.

    • Rumah Pena Rumah Pena (Author) says:

      Ya, salah satu alasan kubu kontra adalahmasalah kesiapan para pengelola jurnalnya. Namun, dengan semangat berbagi dan “resource sharing” ada yangmengatakan, buat aja paper repository atau jurnal online yang dikelola bersama :) Memang ada soal lain yaitu keberagaman mutukarya ilmiahnya :)

      Terima kasih, salam

      • Kalau saya yang jadi stakeholder (pemegang kepentingannya) saya sih bakal bikin kebijakan bagi setiap guru , mulai dari pendidikan dasar, untuk membiasakan para siswanya membuat tulisan yang…mungkin belum sampai ilmiah ya… tapi seenggak-enggaknya ‘berarti’ lah…

        Kalau mau publikasinya bagus , ya..didik dari usia dini sekalian.

        Dan yang tidak kalah penting, apakah ide-ide yang sudah tertuang dalam jurnal (yang sudah ada) mendapatkan dukungan (khususnya dari pemerintah) untuk diaplikasikan ?Dan adakah kemauan dari penulisnya untuk mengimplementasikan?

        Kalau saya baca UGJurnal, kelihatannya ide-ide yg ada di jurnal tersebut keren-keren banget..

        Tapi yg lebih ingin dilihat orang kan implementasinya, bukan sekedar jurnal. Ya nggak ? :-D

  13. Kalau dari saya sendiri sih setuju-setuju saja kalau jurnal menjadi syarat kelulusan untuk mahasiswa S1.
    Hanya ini semua kembali lagi ke pribadi masing-masing, terlebih seperti ada yang namanya jurnal abal-abal yang bisa dibuat dengan mudah dengan harga miring oleh ghost writer atau shadow scholar. Jadi, kembali lagi ke KEJUJURAN. Ya saya di sini bukan melantur ke hal lain, cuma kalau kita lihat Indonesia ini bisa dibilang “sedikit jumlah orang bekerja dengan jujur”. Ya jangan jauh-jauhlah, bagaimana dengan korupsi di Indonesia? Kalau membahas mengenai hal ini memang tiada habisnya.

    Dan jurnal itu kan layaknya menulis apa yang kita ketahui dengan kata-kata kita sendiri, dan yang berarti melalui tulisan saja kita bisa dapat melihat karakteristik orang tersebut.

    Jadi intinya kalau bagi saya sendiri balik lagi ke kejujuran dan usaha kita sendiri. Terimakasih pak :)

  14. setuju banget agar mahasiswa berpikir secara kreatif menghadapi tantangan nyata di dunia kerja. seharusnya karya ilmiah ini wajib di bekali sebelum menghadapi kelulusan nanti agar mahasiswa siap bersaing di dunia kerja. contoh misalkan : di president university jababeka cikarang bekasi sebelum lulus mahasiswa di wajibkan mengikuti program intership di luar kegiatan organisasi alias magang kenapa? di era tantangan yang semakin keras mahasiswa harus bisa menjalin sosialisasi di masyarakat jangan cuma ipk ok, skill mandek.

Leave a Reply