Graha Pena Gunadarma

Filosofi Konsep “Njowo”

April 12th, 2012 | by | in Filsafat | No Comments

Beberapa watu yang lalu saat saya berkesempatan “dolan” mengunjungi salah satu adik ibu di kota kecil perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur…….. tepatnya “mantingan”, bertepatan dengan acara perkawinan putri si Oom. Seluruh keluarga besar seperti biasa……..sudah jauh-jauh hari ………………“dipesankan dan memberikan komitmen” oleh para sesepuh dan pini-sepuh (red. orang-orang tua) …….”wajib” nongol……..dan “mangayu bagyo” (red. turut serta berbahagia) sesuai dengan tradisi dan “aturan” tidak tertulis yang berlaku di keluarga besar yaitu “menyempatkan” hadir pada acara-acara sakral keluarga besar…..dan biasanya dimulai saat malam midodareni…..akad nikah….dan temu penganten.

sumber foto: http://harizant.multiply.com

Akhirnya dengan segala “keterbatasan dan kesempitan”………yang tersisa, maka dengan “semangat juang 45”……kok 45 ya??? Kenapa nggak 86 aja sih..!!!……..nggak ngertilah yang bener yang mana………hehehehe, tapi yang jelas akhirnya saya berhasil juga mencapai kota mantingan, sebelum acara sakral yang wajib dimulai. Seperti biasa setiap kehadiran anggota keluarga besar ….., yang muda segera salam hormat kepada para sesepuh yang sudah siap dengan pakaian adatnya menerima para anggota keluarga yang nongol sambil cengar-cengir (maklum basa-basi…..padahal mungkin perutnya lagi mules…hehehe).

Hal yang menarik pemikiran saya adalah bukan pada ritual acaranya, tetapi dinamika dan komunikasi diantara para sesepuh yang saling mengomentari seluruh anggota keluarga yang berdatangan……. Sangat mudah untuk ditebak..!!! pasti yang dikomentari adalah mereka-mereka yang masih tergolong muda (masih sekolah SMU, kuliah atau keluarga muda)……yang datang dengan berbagai gaya dan sikap mereka…..dan rata-rata bersikap “dinamis, demokratis, bebas, plus cengar-cengir…..mesam-mesem…., dan bahkan terkesan jaim….hehehe” yang menurut pendapatnya tergolong “gaul dan modern”.

Kebetulan saya ikut “nguping” dan menyimak pembcaraan para pini-sepuh tersebut, dan salah satu komentar yang menarik keluar dari Mbah Atmodiwirdjo…..yang dikenal dengan mbah Ngatmo….karena rata-rata susah untuk mengucapkan huruf A…dan diganti jadi Nga. Komentar mbah Ngatmo yang paling sering diucapkan adalah “bocah-bocah saiki lak yo wis podo pinter….kumpulanne wis karo hape lan komputer……trus senenganne nginternet……. tapi kok dho ora njowo to???” (terjemahan bebasnya: anak-anak generasi sekarang khan sudah pada pinter…..senang dan terbiasa dengan hand phone, computer dan internet…intinya melek teknologi informasi……… tapi kok tidak “njowo”….maksudnya tidak mengerti dan memahami sopan santun serta tata krama).

Mendengar komentar tersebut saya sempat tertegun…….apa hubungannya antara computer, internet dan teknologi dengan sopan santun dan tata karma????…… wah itu harus diuji dulu……….tapi ngujinya pake apa donk??? multiple regression atau SEM…..walah !!!! ini urusannya jadi ruwet. Tapi sebenarnya daripada memikirkan korelasi yang disebutkan di atas…..saya cenderung lebih mencermati istilah Mbah Ngatmo…..istilah “njowo”…..sebenarnya njowo itu opo pengertiannya ya???? Kok kata njowo yang dipakai…kenapa bukan ‘ngerti, atau sopan santun, atau tata karma……. Sementara untuk langsung bertanya ke beliau saya “takut…..tepatnya segan”….hehehe.

Saya…….kebetulan lahirnya di tanah Jawa dan sampai dengan sekarang masih sebagai orang jawa…….(mudah-mudahan masih bukan orang utan atau orang-orangan…..), tetapi untuk mencerna dan mendeskripsikan istilah “njowo” saya masih belum mengerti dan memahaminya secara utuh……termasuk kenapa kata “njowo” yang diucapkan Mbah Ngatmo.

Beberapa referensi yang saya dapatkan dari kegiatan nginternet……kalo pake bahasanya Mbah Ngatmo……..menunjukkan bahwa penggunaan kata “njowo”……dimaksudkan sebenarnya bermakna ketidakmengertian dan ketidakpahaman dari suatu kondisi. Sehingga cukup dengan mengatakan itu, seseorang akan mengerti bahwa yang mengatakan itu benar-benar tidak mengetahui dan tidak memahami.  Padahal menurut saya konsep mengetahui dan memahami mempunyai perbedaan arti dan prinsip. Sehingga kata “njowo” mengandung makna pemahaman yang tertinggi tingkatannya dari suatu kondisi………….pemahaman terhadap apa?, pemahaman terhadap situasi dan kondisi sesuai dengan lokasi, lingkungan dan budaya lokal yang berlaku di lingkungan masyarakat tersebut. Nah, bila memang itu konsepnya…………..maka konsep “njowo” itu berkaitan dengan pepatah “dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak”……..tapi itu masih mungkin…..lha wong belum dibuktikan secara ilmiah……hehehehe.

Terus kenapa para pini-sepuh….terutama Mbah Ngatmo selalu bilang “njowo” untuk menggambarkan hal tersebut? Menurut saya hal ini tidak lepas dari kebiasaan orang jawa terutama para sesepuhnya untuk selalu “berfilosofi”, bahkan seringkali diungkapkan dengan tembang-tembang nasehat (red. dikenal dengan “unen-unen’). Para sesepuh seringkali menggunakan unen-unen untuk menyampaikan pesan moral dalam menata kehidupan sebagai manusia…………yang pada akhirnya tertuju pada “tujuan hidup manusia” …… serta terus berusaha menjadi orang yang bermanfaaat atau kalo istilahnya Mbah Ngatmo diungkapkan dengan kata-kata filosofisnya ……..jadilah manusia yang “bener”.

Apabila dikaji lebih mendalam, kata yang digunakan adalah “bener” dan bukan pinter atau pandai…(red. atau apapun isitilah sekarang), dan bukan juga istilah manfaat……. Nah hal ini pernah saya sempatkan berdiskusi dengan Mbah Ngatmo……..yang menyatakan bahwa “bener” itu mengandung dua pengertian, yaitu “pintar dan bermanfaat”. Berdasarkan konsepsi “bener” nya Mbah Ngatmo tersebut, menunjukkan bahwa “pinter” itu belum tentu “bener”, tetapi kalau “bener” sudah mengandung arti “pinter”.

Pinter atau pintar masih mengandung makna negatif bila tidak digunakan secara benar, sehingga di dunia ini tidak ada orang bodoh atau bloon, tetapi hanya ada garis pemisah antara yang “sudah” memahami dan “belum” memahami. Konsep pemahaman tersebut terkait dengan manfaat yang dapat disebarkan oleh mereka yang tergolong “pinter” kepada manusia dan mahluk lain yang juga ada di bumi ini.

Oleh sebab itu, para sesepuh dan orang tua (terutama yang berasal dari suku Jawa) selalu menasehatkan filosofi “njowo” kepada anak cucunya secara turun temurun………… jadi wajar saja dan jangan heran kalo ada para sesepuh yang akan menegur dengan ungkapan “ora njowo”. Bahkan suatu hal yang tidak aneh bila akhirnya ada kalimat “wong jowo kok ora njawani”. Ungkapan filosofis yang sangat dalam……….dan mungkin perlu elaborasi yang lebih dalam lagi untuk dapat memahaminya secara sempurna.

Mantingan, 2012.

Ditulis Oleh

Prihantoro → Kawulo puniko kalebet golongan "kacung kampret", dadosipun ingkang dalem corat-coret puniko namung sekedar uneg-uneg lan harapan saking kawulo alit

Lihat semua tulisan dari

Website : http://prihantoro.staff.gunadarma.ac.id

Leave a Reply