Graha Pena Gunadarma

Benarkah Menulis di Era Informasi Lebih Mudah?

March 30th, 2012 | by | in Edukasi | No Comments

Dulu, bunyi mesin tik bermerk “brother” menjadi nada pengiring melewati tengah malam di kos-kosan. Warna putih Tip-X pun selalu menghias lembaran kertas yang kadang gurat hurufnya tidak merata, tergantung pada hentakan jari-jari di papan ketik. Jika mau perlu ada salinan tulisannya, kertas karbon pun dipasang di antara dua lembar kertas, itupun kalau perlu satu salinan. Jika perlu 3 rangkap, ya semakin boros kertas karbonnya.

Mengutip pendapat dari tulisan orang lain pun butuh perjuangan. Textbook dan jurnal harus dilihat dan dibaca saja di perpustakaan. Jika ada kalimat yang mau dikutip, harus ditulis sendiri. Mesin fotocopy memang sudah ada, tapi biayanya bisa membuat uang bulanan habis hanya untuk itu. Masih ingat, fotocopy jurnal international sekitar Rp 1000 per lembar di Perpustakaan LIPI di jalan Gatot Subroto. Itu dulu sekitar akhir tahun delapan puluhan.

Yang paling susah adalah mengambil gambar dari tulisan orang. Tidak jarang menggambar ulang dengan cara manual. Kalau anggaran dari orangtua masih memungkinkan, tulisan bergambar pun akhir difoto copy. Gambarnya lalu digunting dan ditempelkan pada hasil ketikan. Biar terlihat rapih, batas tepi gambar pun dioles lagi dengan tip-x sebelum difoto copy kembali.

Jungkir-baliknya membuat tulisan di masa lalu ini kini sudah menjadi nostalgia. Nostalgia itu pun sudah menjadi sejarah karena mungkin tidak pernah ditemukan yang seperti itu di era sekarang. Mesin tik Brother sudah jarang ditemui. Kertas karbon pun mungkin sudah tidak ada lagi. Kehadiran teknologi- baik percetakan maupun teknologi informasi- membuat “perjuangan” dulu sudah terlupakan.

Kini, itu semua begitu mudah menulis. Membuat tugas kuliah pun lebih gampang. Salah ketik, tinggal tekan “backspace”. Mengutip tulisan orang yang tersedia file elektroniknya pun tinggal “copy-paste”, asal jangan lupa menyebutkan sumbernya. Gambar-gambar bagus pun bisa disisipkan di tulisan kita. Tata letak dan disain tulisan pun bisa di-setting dengan mudah. Dulu, membuat tulisan “rata-kanan” dengan mesin tik manual perlu kesabaran tingkat tinggi.

Mencari rujukan pun gampang sekali. Dengan modal mesin pencari dan kata kunci, ratusan bahkan ribuan tulisan orang lain bisa menjadi bahan rujukan. Penerbit jurnal international pun sudah banyak yang menganut “Open Journal System”, atau tersedia di paper repository gratisan. Jika berbayar pun, banyak institusi yang berlangganan dan memberikan hak aksesnya ke komunitas. Artikel dengan topik apapun rasanya sudah tersedia di dunia maya bak perpustakaan raksasa atau gudang tulisan. Tinggal pintar-pintarnya menggunakan kata kunci, serta memilah dan memilih tulisan berkualitas dan relevan dengan topik kita.

Lalu, adakah sisi negatif dari kemudahan dan kenyamanan menulis di era informasi tersebut?

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

Leave a Reply