Graha Pena Gunadarma

Bank Persero, Tambun Namun Boros

April 17th, 2012 | by | in Keuangan | No Comments

Apa fungsi Bank Persero yang dimiliki pemerintah? Mungkin sebagai “sapi perah“ yang bisa menyetor upeti besar pada penerimaan negara. Bisa juga sebagai garda terdepan untuk menangkis hegemoni kepemilikan asing di perbankan nasional. Namun, saat melihat geliat bank pelat merah itu makin membesar, adakah kepedulian pemerintah sebagai pemilik sahamnya untuk menggenjot sektor riil? Mari kita cermati Statistik Perbankan Indonesia (SPI) edisi Februari 2012 yang baru dirilis BI pada 13 April 2012.

Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia per Februari 2012 (foto pribadi)

Bank Persero – yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN – menguasai 34,60% aset bank umum, dengan total aset sebesar Rp 1255,3 Trilun. Jumlah aset bank umum tercatat Rp 3628,1 Triliun, atau menurun 0,06% dibandingkan posisi Desember 2012. Jumlah aset tersebut berasal dari 120 bank umum, yang terdiri dari 6 kelompok bank, yakni Bank Persero, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa, BUSN Non-Devisa, BPD, Bank Campuran, dan Bank Asing. Keempat bank persero masuk sepuluh besar bank di Indonesia, bahkan Bank Mandiri dan BRI pun menjadi dua bank terbesar di Indonesia dilihat dari total asetnya. Berikut Top Ten Bank berdasarkan total asetnya dan persentasenya terhadap total aset bank umum.

  1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, 480.558 (13,25%)
  2. PT BRI (Persero) Tbk, 417.634 (11,51%)
  3. PT Bank Central Asia Tbk, 393.374 (10,84%)
  4. PT BNI (Persero),Tbk, 273.284 (7,53%)
  5. PT Bank CIMB Niaga, Tbk, 169.572 (4,67%)
  6. PT Bank Danamon Indonesia T, 125.012 (3,45%)
  7. PT Pan Indonesia Bank, Tbk, 121.445 (3,35%)
  8. PT Bank Permata Tbk, 106.905 (2,95%)
  9. PT BII Tbk, 93.054 (2,56%)
  10. PT BTN (Persero), Tbk, 83.829 (2,31%)

Berkibarnya bank persero dilihat dari asetnya menjadi hiburan tersendiri di tengah serbuah kepemilikan asing di perbankan nasional. Namun, besar saja tidak cukup jika kinerja dan kontribusinya masih memprihatinkan. Rangkuman beberapa indikator perbankan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Indikator perbankan per kelompok bank (Sumber data: SPI BI Februari 2012, diolah)

Fakta lain tentang Bank Pelat Merah yang memprihatinkan adalah, pertama, NPL bank pemerintah paling tinggi, atau artinya persentase kredit dengan status diragukan, kurang lancer, dan macet dibandingkan total kreditnya paling tinggi dibandingkan kelompok bank lain. Jumlah kredit bermasalahnya mencapai Rp 21,9 Triliun dari Rp 767,5 Triliun yang disalurkan. Kondisi tersebut mengindikasikan bank persero kalah pamor dalam manajemen risiko kredit walau kesimpukan itu terlalu prematur juga karena bisa jadi keberanian menyalurkan kredit memang selalu menghadapi resiko kredit bermasalah. Namun, jika bank lain punya NPL yang lebih rendah, bank persero tetap harus bisa bebenah dalam manajemen resiko kreditnya. Berikut lima bank penyalur kredit terbesar berdasarkan total kredit yang disalurkan dan pangsa pasarnya.

  1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, 275.539 (12,51%)
  2. PT BRI (Persero) Tbk., 2 72.804 (1 2,38%)
  3. PT BCA, Tbk., 1 99.926 (9 ,08%)
  4. PT BNI (Persero),Tbk, 1 54.697 (7 ,02%)
  5. PT Bank CIMB Niaga, Tbk, 1 23.583 (5 ,61%)

Kedua, Bank Persero termasuk jago mengeruk laba bunga dibandingkan kelompok bank lain, kecuali Bank Asing. Kondisi tersebut dapat dilihat dari nilai ROA-nya sebesar 4,23%. Total laba bersih Bank Persero Rp 6,7 Triliun. Percuma laba bunga tinggi jika memeras jerih payah debitur dan memberi bunga alakadarnya kepada kreditur. Sungguh ironis jika bank masih berpesta poya dengan segala biaya-biayanya di atas uang rakyat yang masih sudi mampir di jutaan rekening simpanan masyarakat di bank-bank. Kondisi idealnya adalah: Bunga simpanan masyarakat di atas inflasi, bank meningkatkan efisiensi agar NIM nya jangan terlalu tinggi, dan akhirnya bunga kredit pun bisa turun. Kondisi sebaliknya saat ini: Bunga simpanan makin turun dan efisiensi bank begitu-begitu saja, namun mereka inging meneguk untung besar. Jadi jangan heran, bunga kredit masih tetap tinggi.

Ketiga, Saat banyak pihak mempertanyakan suku bunga kredit yang masih tinggi, bank persero belum berhasil menjadi inisiator penurunan suku bunga kredit. Posisi bank persero seperti ini patut dipertanyakan karena terkesan tidak peduli dengan sektor riil yang berharap kredit murah. Harusnya bank persero menjadi “pemimpin pasar“ dalam penurunan bunga kredit, bukan jagoan menyalurkan total kredit saja. Rata-rata suku bunga kredit (rupiah) bank umum adalah 11,83% untuk kredit modal kerja, 11,29% untuk kredit investasi, dan 12,90% untuk kredit konsumtif.

Bunga kredit tersebut memang cenderung turun tipis dibandingkan posisi Desember 2011, namun masih dianggap tinggi karena bunga simpanan masyarakat jauh lebih rendah. Atau dengan kata lain, interest spread-nya masih lebar. Masih tingginya bunga kredit bisa berhubungan dengan BOPO bank persero yang kelewat tinggi, atau dengan kata lain, bank persero itu boros, tidak efisien. Jangan sampai sikap boros itu ditutupi dengan keringat kreditur yang harus membayar bunga tinggi.

Keempat, bank persero menempatkan dananya di BI sebesar  Rp 198,5 Triliun, atau 20,67% dari DPK. Jika ditambah dengan jumlah SBI yang diborongnya, Bank Persero menjadi bank yang tidak mendukung peningkatan fungsi intermediasi bank. Kondisi ini memang pukul rata, atau tidak melihat satu per satu bank persero yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN.  Inilah yang dimaksud dengan alokasi dana bank yang tidak produktif. Atau dengan kata lain, seperti pepatah: keluar kantong kanan, masuk kantong kiri.

Kondisi tersebut membenarkan sinyalemen: bank tinggal ongkang-ongkang kaki saja, beli SBI saja sudah untung karena bunga rata-rata simpanan lebih rendah. Jangan heran jika fungsi intermediasi bank masih dipertanyakan. Bank lebih bermain aman dengan mengalokasikan dananya ke investasi beresiko rendah, atau tidak berani menggelontorkan kredit lebih banyak. Kondisi tersebut bisa diukur dari rata-rata LDR perbankan nasionak sebesar 79,43%. Artinya, dana menganggur bank masih relatif banyak, walau mereka masih menerima laba bunga yang lumayan juga.

*****

Setidaknya ada dua pilihan dilematis bagi pemerintah: menggenjot pendapatan bank persero tanpa peduli bagaimana caranya, atau mengharuskannya menggelontorkan kredit murah demi pertumbuhan sektor riil? Bisa jadi ada titik keseimbangan, namun saat dunia usaha lesu karena kurangnya pasokan sumber pembiayaan, sudah sepatutnya pemerintah tegas memihak, yakni: Mendorong bank persero melakukan efisiensi, misalnya jika perlu, tinjau kembali skema renumerasi gaji para bankir di bank persero, yang katanya untuk top eksekutifnya bisa lebih besar dari gaji presiden. Setidaknya ada pembatasan rentang gaji, yang katanya seperti langit dan bumi antara gaji top executive bank dengan pegawai rendahan. Atau, rencana BI untuk melarang hadiah perlu segera diimplementasikan. Rasanya tingkat efisensi perbankan nasional yang tergolong rendah di ASEAN bisa segera dibenahi.

Kalau Bapak Presiden dan para Menterinya tidak mempermasalahkan itu, ya sudah. Kita cukup menjadi penonton saja saat Bank Persero itu semakin tambun walau sebenarnya mereka itu boros.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

Leave a Reply