Graha Pena Gunadarma

Alam Indonesia Memburuk

April 10th, 2012 | by | in Green, Headline | 46 Comments

Dulu kita mengenal istilah Zamrud katulistiwa yang melambangkan indahnya negeri ini bak surgawi. Kita pun pernah mendengar lagu kolam susunya Koes Plus, yang mendendangkan: “Tongkat dan batu pun jadi tanaman”. Apakah gambaran melankolis dan sentimental itu masih relavan saat ini?

Arus modernisasi kian menggerus sumber daya alam. Roda ekonomi kapitalis semakin menjadi-jadi mengeksploitasi alam dan lingkungan. Kemajuan pun harus dibayar mahal dengan kualitas lingkungan yang makin memburuk. Lihat saja laju konversi lahan produktif menjadi mal dan peruamahan. Atau udara perkotaan yang makin pengap diselimuti polusi.  Kita tidaktahu persis bagaimana sampah-sampah plastik yang sulit terdegradasi dikemanakan. Kita pun sudah terbiasa dengan bencana banjir dan tanah longsor.

Ya, bumi pertiwi sepertinya sedang bersedih. Entahlah, siapa yang harus dikasihani: alam atau insan yang makin semena-mena terhadapnya.

Lalu seburuk apakah kualitas lingkungan Indonesia?

Mari kita lihat Environmental Performance Index (EPI) yang secara periodik dirilis oleh Yale University. EPI edisi 2012 pun sudah dipublikasikan. Apa sih EPI itu? Kita lihat dulu indikator pengukurnya, dengan metodologi lengkapnya bisa dilihat di sini.

Indonesia menempati peringkat ke-74 tahun ini, atau posisi terbaik selama sepuluh tahun. Namun, bukan berarti lingkungan Indonesia tidak bermasalah. Peringkat Indonesia selama sepuluh tahun cenderung jalan ditempat di peringkat 70 sampai delapan puluhan. Kita lihat perkembamgan peringkat Indonesia selama satu dasawarsa.

Peringkat 82 tahun 2000
Peringkat 83 tahun 2001
Peringkat 84 tahun 2002
Peringkat 82 tahun 2003
Peringkat 79 tahun 2004
Peringkat 79 tahun 2005
Peringkat 79 tahun 2006
Peringkat 75 tahun 2007
Peringkat 74 tahun 2008
Peringkat 74 tahun 2009
Peringkat 74 tahun 2010

Swiss terbaik, Irak terburuk (sumber: www,epi.yale.edu)

Swis menempati peringkat pertama, diikuti oleh  Latvia dan Norwegia. Mereka bersama enam  negara lainnya masuk kelompok “Strongest Performers“.  36 negara masuk ke kategori “Strong Performers”, termasuk Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina. Indonesia masuk kelompok “biasa-biasa saja” atau Modest Perfirmers bersama 37 negara lainnya. Berikut peringkat lengkap 132 negara, yang posisi paling buncitnya ditempati Irak, yang dikutip dari sini.

Sekarang kita lihat posisi Indonesia untuk masing-masing parameter, serta perkiraan kualitas lingkungan ke depannya berdasarkan analisis dari Yale University.

Yale University meramalkan posisi Indonesia bisa lebih baik jika dilihat dari hasil analisis terhadap data pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Prediksi tersebut disajikan pada kolom “Pilot Trend Result” pada tabel profil di atas. Indonesia akan membaik pada aspek kesehatan lingkungan, namun bisa memburuk untuk indikator vitalitas ekosistem. Hanya parameter pertanian yang diperkirakan membaik, sedang enam parameter ekosistem lainya diramalkan akan tetap mengkhawatirkan. Bahkan, dampak ekosistem udara dan perubahan iklim bisa makin memburuk. Kerusakan hutan pun diperkirakan tidak ada perubahan, atau tetap ada ancaman terhadap kelestarian hutan tropis di Indonesia. Padahal Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia.

Kepedulian saja tidak cukup. Lisan dan tulisan pun hanya sebatas perhatian yang belum sepadan. Perlu ada gerakan bersama yang intensif dan masif. Dan itu bisa dimulai dari lingkungan terkecil di sekitar masing-masing. Sulit memang, termasuk bagi penulis sendiri, tapi mudah-mudahan tidak terlambat agar alam tidak semakin sekarat.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Budi Hermana → Dosen Universitas Gunadarma http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

Lihat semua tulisan dari

Website : http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

46 Responses to “Alam Indonesia Memburuk”

  1. Susy Suhendra says:

    memprihatinkan kondisi yang kita alami di negara yang dikenal sebagai negara kaya dan indah alamnya…. perlu sepertinya kalau ada pemetaan kondisi lingkungan per wilayah yah Bud… sehingga pemerintah setempat menjadi lebih concern …. mudah2an …..

  2. Susy Suhendra says:

    Budi… udah jadi komporrrrr lagi deh….. hehehehehehehe

  3. Akhmad Fauzi says:

    Tidak ada kata terlambat untuk berbuat sesuatu demi kebaikan hidup yang lebih baik!! Indonesia masih memiliki sekitar 13.000 pulau yang menyebar dari Sabang hingga Merauke yang berarti sumber kehidupan laut maupun daratan masih menyebar luas, dari atas langit masih ada warna hijau hutan yang wajib dan senantiasa selalu dijaga keasriannya.

    STOP LAKUKAN ILLEGAL-LOGGING !!
    STOP LAKUKAN PEMBAKARAN LIMBAH SEMBARANGAN!!
    STOP LAKUKAN MEROKOK BEBAS!!
    BATASILAH PEMAKAIAN KENDARAAAN BERMOTOR!!
    LALU ???
    KATAKAN YES DAN LAKUKAN YES UNTUK PENANAMAN SEJUTA POHON DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN.

    Sebuah awal yang baik akan cepat berhasil jika dari kekompakan dan konsistensi bersama untuk mengubah indonesia menjadi zamrud katulistiwa kembali dan kehidupan yang lebih layak. Semoga dapat diterima.

  4. SILVEN says:

    Indonesia jamrud khatulistiwa??

    Sebenar nya sih iya, cuma hanya kita saja yang tidak mensyukurinya dan menyadari nya.. Indonesia adalah Hutan Dunia, harus nya bisa lebih baik dan berada di peringkat 1 – 10 tuh…

    Kalo saran dan coment saya, mungkin indonesia harus sedikit menjalankan sistem ke diktatoran, karena tingkat kesadaran hukum yang kurang di negara ini. Mengakitbatkan banyak orang / masyarakat yang se enak nya saja melakukan apa pun.

    contoh saja : buang sampah sembarangan, bangun rumah dimana saja, belum juga hukum yang bisa di beli, dan lain2..

    Untuk itu saya pikir sedikit ditaktor akan meberikan efek jera kepada orang2/masyarakat yang suka seenaknya saja.. Tentu nya dalam hal ini mencakupi masalah lingkungan hidup Indonesia sendiri..

    Dengan Hukum yang sedikit di taktor akan membuat indonesia jauh lebih baik.. Dan membuat takut para orang2 / masyarakat yang sok2 an seenak nya sendiri…

    Terima kasih..
    Silvent

  5. Melisa Chatrine says:

    Pemerintah memang telah melakukan banyak upaya, usaha, untuk mengadakan penyuluhan, seminar, dan gerakan (seperti penanaman 1000 pohon) untuk mengatasi masalah lingkungan yang terjadi di Indonesia saat ini. Semakin tipisnya jumlah pepohonan dan kawasan hutan berbanding lurus dengan tingkat kepedulian masyarakat terhadap pohon dan lingkungan. Ketika gerakan penanaman tersebut hanya “menggebu-gebu” pada satu hari saja, kemudian tidak ada upaya untuk merawat dan menjaganya, saya katakan bahwa hasilnya pasti nihil.

    Selain itu, yang saya lihat, pemerintah juga sedang giat-giatnya melakukan upaya pembangunan kota. Membangun berbagai tempat yang dapat meningkatkan income kenegaraan dan segala sesuatu yang menghasilkan profit. Pembangunan ini tak jarang menggunakan lahan kosong, bahkan hutan. Lalu, apakah penanaman 1000 pohon yang notabene dilakukan dalam rangka “mencintai Bumi” digunakan sebagai “pembayaran hutang” atas lahan hijau yang hilang untuk “rupiah”?

    Lalu, jika memang hal tersebut adalah bentuk “pembayaran hutang”, tentu lahan-lahan yang telah hilang kehijauannya dapat tergantikan, bahkan terbaharui. Tetapi pada kenyataannya, tingkat “kehijauan” Indonesia semakin menurun dan hal ini yang mengakibatkan kondisi lingkungan memburuk, bahkan terjadi perubahan cuaca. Apakah program-program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah lingkungan hanya sebatas “program” tanpa adanya “beban”? Dan apakah kita belum memiliki kesadaran yang timbul dari dalam diri untuk melestarikan “rumah” ini? Untuk mendapat jawabannya, lihat kondisi lingkungan saat ini. Mari bergerak :)

  6. Budi Hermana says:

    Apakah kite perlu menghentikan modernisasi karena menyebankan konversi lahan produktif menjadi perumahaan, mall, dll, pun eksploitasi sumber daya alam? Mudah2an ada teknologi ramah lingkungan ya :)

  7. indonesia oh indonesiaku, dulu kau adalah pusat perhatian dunia sebagai wilayah tropis yang sangat kaya akan pesona alamnya , namu kini entah siapa yang harus di salahkan , manusia ? ya jelas,

    HUTAN, ya hutan yang katanya sebagai paru-paru dunia, tapi kenapa ? manusia padahal sudah tau hal itu, malah kerusakan hutan pun kian parah, wilayah jawa kian gersang banyak yang jadi kebun sumber semen dsb :(.
    kalimantan dan papua ? kedua pulau itu adalah pemilik hutan yang sangat luas malah sebagai penyerap karbon terbanyak, tapi apakah bisa bertahan lebih lama lagi ? melihat hutan yang menjadi kebun, penebangan liar,
    semua pemanfaatan adalah untuk jangka waktu yang pendek, mereka yang melakukannya mungkin tidak memikirkan apa yang terjadi dimasa depan di kehidupan anak cucunya.
    kerusakan hutan pun bukan hanya manusia yang kena imbasnya, binatang pun banyak yang kehilangan ekosistemnya, mereka marah banyak kejadian yang datang ke pemukiman karena lingkungannya rusak mungkin itu bentuk ekspresi dari mereka.
    Banyak juga hewan yang sedikit demi sedikit mendekati kepunahan bahkan sudah punah tak lain penyebabnya adalah ekosistemnya yang rusak.

    Lalu kalau sudah begini mau apa ? kita sebagai generasi muda jangan deh ikutan tingkah laku mereka yang banyak merusak, kita cari solusi untuk mengganti penggunaan kayu berlebih misalnya. mungkin bisa menggunakan plastik , sekaligus mendaur ulang plastik yang katanya sulit untuk dimusnahkan.

    kita juga perlu untuk menanam pohon supaya tingkat karbondioksida tidak semakin meningkat ya bisa lah tiap rumah menanam satu pohon , itu juga buat kebaikan sendiri kan ? halaman rumah jadi adem. ya segitu mungkin dari saya , terima kasih ^^:LC

    • Budi Hermana says:

      Jangan sampe justru kita yang menderita nanti ya :( Kadang ada jargon, alam tidak bersahabat lagi dengan kita, padahal itu gara-gara kita tidak memperlakukannya sebagai sahabat ya :) Ayo hijaukan pekarangan kita. contohnya, jangan sampai dapur hidup atau apotik hidup hanya sekedar dongeng atau mata pelajaran dulu kala :)

      • itu lah pentingnya relisasi dan praktik dalam kehidupan , jangan sampe hanya pelajaran yang ada di LKS saja . kasihan bumi ini terutama indonesia, sayang kalau indonesia yang sebagai negara subur di abaikan bahkan di rusak ,, Save Earth :)

  8. Selain ekosistem hutan, ekosistem laut juga perlu diperhatikan. Indonesia yang sangat terkenal dengan keindahan bawah lautnya, sekarang memiliki banyak terumbu-terumbu karang yang rusak akibat orang-orang tidak bertanggung jawab. Walaupun itu untuk kebutuhan makan sehari-hari, tetap saja merusak lingkungan dapat mempersulit generasi kedepannya kelak.

    Harapan saya, semoga masyarakat menyadari dan melindungi keberadaan ekosistem hutan maupun laut yang merupakan penopang hidup mereka. Jangan hanya mendukung saja, tapi lakukanlah. TALK LESS DO MORE!
    Trims :)

    • Budi Hermana says:

      Padahal nenek moyang kita itu pelaut ya. Pun wilayah Indonesia itu lebih banyak lautnya, katanya 2/3-nya. Mungkin kita suda lupa perahu cadik seperti apa saat nenek moyang datang ke Indonesia dahulu kala. Jadi kita hanya mendengar kejayaaan budaya Indonesia hanya di buku atau didongengin orangtua :)

  9. Indonesia DULU paru-paru dunia,,,
    indonesia DULU hutan dunia…
    indonesia DULU kaya sumber daya alamnya..
    indonesia DULU surga ditengah dunia…
    apa itu hanya akan jadi cerita DULU untuk anak cucu kita,, mengingat indonesia yang berubah seperti power ranger pahlawan kesiangan ditengah dunia yang memiliki sejuta pembangunan tanpa memperhatikan efek yang terjadi diindonesia ini,,, pepohonan yang asri dan rindang mdisulap menjadi mall besar bertingkat puluhan,,hutan indah disulap menjadi apartemen mewah,,
    mereka yang memiliki kekuasaan diindonesia memang berhak melakukan apapun dengan kekuasaannya namun mengapa harus merusak rumah sendiri ditanah dimana kita tingal bersama bukannkah kerugian akan kita juga yang mengalaminya,,,banjir dimana-mana , bencana alam yang tanpa kita sadari karena kelalaian kita sendiri…
    marilah kita tanamkan go green yg sebenarnya bukan hanya sekedar kampanye atau kata-kata tapi memang go green yg sebenarnya, banyak hal kecil yang kita mampu lakukan sebenarnya dimulai dari buang sampah pada tempatnya, mengunakan tisu seperlunya seperti yang kita ketahui tisu yg kita gunakan terbuat dari pohon yang melindungi kita dari banjir dan panas, lalu plastik belanja yg kita gunakan kita bisa menggunakan tas berbahan yang bukan berbahan plasti dimana plastik itu sendiri tdk dapat didaur ulang…kita sebagai generasi muda bisa melakukannya ini hanya hal sepele yg bermakna sangat besar jika kita mau melakukan dan menyadarinya,,,
    hidup GO GREEEN..
    jempol buat tulisannya ya pak,,,god job..

  10. membaca beberapa komentar di atas nampaknya para intelek muda sudah mengerti sebab akibat rusaknya alam kita ini , sudah saat nya kita merubah pola hidup dan pola pemanfaatan kekayaan alam di indonesia seperti hutan dengan kayu nya dan lautan dengan hasil lautnya , supaya tidak sampai merusak ekosistemnya , sehingga ekosistem terjaga dan hasil alam pun tetap berlimpah , SAVE OUR EARTH

    “Refisi Email”

    • Budi Hermana says:

      Jadi, mengerti saja tidak cukup ya Djun? :) Menyelamatkan bumi tidak bisa hanya dengan wacana dan pemahaman saja. Menyelamatkan bumi demi warga karena kita tidak tahu kemana menyelamatkan diri saat bumi tak layak lagi dihuni :(

  11. TIYO INDRADI says:

    masalah lingkungan khususnya kerusakan hutan sebetulnya merupakan masalah klasik Indonesia dari tahun ke tahun. Banyak faktor yang menyebabkan masalah tersebut,namun menurut saya penyebab yang paling mendasar adalah masalah ekonomi . Dapat kita ketahui, banyak warga Indonesia yang melakukan pembukaan lahan pertanian di hutan secara bebas dan melakukan pembalakan liar terhadap hasil-hasil hutan. Hal ini dikarenakan karena adanya suatu keterpaksaan, keterpaksaan akan suatu penghidupan yang layak. Mereka pada umumnya tahu apa yang mereka lakukan itu salah. Namun apa mau dikata, harga-harga yang semakin melambung, minimnya lapangan pekerjaan, dan kurangnya modal usaha mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut.
    Dalam hal ini pemerintah memegang peranan paling penting guna mengatasi masalah-masalah tersebut. Solusi yang sepatutnya diambil pemerintah antara lain mengeluarkan kebijakan ekonomi yang berbasis kepada kesejahteraan rakyat, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya terutama di daerah pedesaan, dan mempermudah akses masyarakat terhadap sumber-sumber modal usaha. Jika pemerintah dapat merealisasikan solusi tersebut secara konkret,nyata, dan berkesinambungan tanpa ditunggangi kepentingan politik apapun, maka perekonomian masyarakat akan meningkat dan masalah lingkungan pun lama-kelamaan dapat teratasi.
    Sekian komentar dari saya dan semoga bermanfaat.Terima kasih…

  12. Kita masih bisa memperbaiki masalah lingkungan yang ada di Indonesia dengan tindakan nyata kita yang dimulai dari diri kita sendiri, dengan cara buang sampah ditempatnya. Mungkin kita sering kali sulit untuk melakukannnya, padahal itu hal yang sangat mudah bagi saya. Kalo disekitar kita tidak ada tempat sampah, bawa dahulu sampah yang kita bawa sampai kita menemukan tempat sampah, kalo kalian malu membawa sampah sepanjang jalan bisa meyimpannya dikantong celana atau taruh didalam tas anda, sampai kalian menemukan tempat sampah. Saya melakukan hal itu apabila saya tidak menemukan tempat sampah.

    Untuk mengurangi pencemaran lingkungan udara, khususnya untuk pemerintah, Pemerintah bisa membuat program “Ayo kita gunakan angkutan umum untuk udara yang lebih bersih”. Dengan cara membuat angkutan yang umum yang nyaman, bersih, aman, dan menjangkau semua daerah untuk mengurangi orang yang menggunakan kendaraan pribadi, sosialisasi kepada masyarakat betapa bahaya polusi udara dan mengajak masyrakat untuk beralih ke angkutan umum.

    • Budi Hermana says:

      Soal buang sampah, anehnya saat kita di luar negeri malah takut buang sampah sembarangan karena takut didenda. Di sini, seolah tong sampahnya luas, jadi bisa dibuang di mana saja :(

      Soal angkutan umum, ada pakar bilang, demi kenyamanan pribadi berkendaraan, sebenarnya itu ikut menyumbang kemacetan juga. Kadang orang berkilah males pakai angkutan publik karena layanannya kurang memadai :)

  13. Melisa Chatrine says:

    Saya setuju, Pak. Sebenarnya sudah banyak teknologi ramah lingkungan yang ada. Tapi mungkin kurang tersosialisasi saja. Kita tentu tidak dapat menghentikan modernisasi yang terjadi saat ini. Tetapi pelaksanaanya harus lebih bijaksana saja. Bukan begitu, Pak? Terima kasih :)

  14. Yudi Kurnia says:

    Oleh karena itu kawan sudah semestinya kita ini para calon intelektual muda untuk dapat dan sepantasnya memberi contoh yang baik untuk adik-adik kita
    agar dapat membuat bumi kita menjadi biru lagi, bagaimana caranya? Diawali dengan hal yang mudah dulu, yaitu membuang sampah pada tempatnya,
    kemudian baru dengan cara penghijauan lingkungan sekitar kita dahulu, setelah itu baru kelingkup yang lebih luas.

    • Budi Hermana says:

      Sepakat :) Semoga dosen dan mahasiswa bisa memberi contoh di lingkungan kampus ya, misalnya tidak membuang sampah sembarangan di koridor gedung. Kan kasihan OB-nya ya :)

      terima kasih, salam

  15. Diana Ritri says:

    Assalamualaikum wr. wb.
    Saya ingin memberi sedikit komentar tentang alam Indonesia yang memburuk.

    Sebenarnya ini bukan masalah yang baru dan bukan masalah yang selalu di perdebatkan (itu-itu saja), namun realisasinya yang tidak terlaksana dengan baik (atau bahkan sama sekali tidak terlaksana).
    Saya juga tidak terlalu mengerti dengan sifat atau karakter orang Indonesia yang mungkin sudah sejak dari ‘nenek moyang’ kita yang mungkin cenderung pemalas, hanya bisa komentar, cepat sekali puas dengan hasil yang standar saja, tidak peduli dengan sesama (bahkan untuk dirinya sendiri) dan sifat yang tak tahu malu.
    Mungkin untuk alasan ini yang sulit untuk membangun karakter orang Indonesia untuk lebih baik yang mungkin di mulai dari sedini mungkin dan dari pemimpin negara ini sendiri.

    Indonesia memang sangat kaya dengan alam, sangat subur, sehingga negara manapun berlomba-lomba merebut Indonesia. Kita bisa lihat sekarang tanah-tanah kosong terisi dengan pabrik-pabrik milik asing, di bangun mall-mall, supermarket yang basisnya milik orang asing. Yang mereka membuang limbah di tanah subur kita. Ini sangat memperhatinkan untuk negara ini. Bagi kita warga yang ingin peduli kita hanya bisa melihat kerusakan alam Indonesia yang terus tergerus oleh bangunan-bangunan yang menyedot segala kekayaan dan membuang ‘sampah-sampahnya’ di tanah kita.

    Untuk itu mulailah kita cintai negri ini, jangan terus mencaci maki negeri ini, bagaimana pun juga kita lahir disini kita sudah di takdirkan untuk menjadi bagian Indonesia, bukannya kita pindah ke negara lain dengan alasan: negara ‘ini’ sangat indah, maju, dan bersih dan justru relawan-relawan dari berbagai belahan dunia datang kemari membenahi Indonesia. Pupuklah rasa malu dalam jiwa kita, malu terhadap orang lain, malu terhadap negara lain. Kita jangan terus menyalahkan presiden kita atau mempermasalhkan para mentri-mentri, karena sejujurnya mereka pun sudah mempunyai tugas lain yang sangat besar dan kita seharusnya berpartisipasi memajukan negara kita, malulah kepada pahlawan-pahlawan kita dahulu yang sudah berjuang melawan penjajah, jangan sekarang kita justru di bodoh-bodohi, di tipu, atau pun terlena dengan mereka.
    AYO sadarkan diri kalian untuk peduli sesama, terutama terhadap lingkungan, pikirlah nasib generasi-generasi selanjutnya bagaimana keadaan lingkungan di masa mereka bila sekarang kita justru mengeksploitasi seluruhnya.

    Cukup sekian komentar dari saya, mohon maaf apabila ada salah kata atau tersinggung atau kata saya yang kurang berkenan di hati.

    Wassalamualaikum wr.wb.

    • Budi Hermana says:

      Mudah-mudahan tidak terus-terusan No Action Talk Only, atau hanya berwacana dan menuliskannya saja :)

      Perlu kerja keras, kerja sama dan kerja bakti agar alam tidak semakin parah. Terima kasih ya

  16. Alam Indonesia merupakan alam yang penuh dengan segala kekayaan melimpah, ada minyak, batu bara, emas, pertanian, dan lain-lain. Kekayaan alam Indonesia merupakan anugrah sang Pencipta untuk Indonesia. Tetapi apa jadinya kalau kekayaan alam tersebut tidak digunakan sebaik mungkin, begitu banyak perusakan hutan yang menyebabkan pori-pori oksigen semakin berkurang, pembuangan limbah sembarangan menyebabkan lingkungan hidup manusia dan habitat lautan rusak, jadi perhatian pemerintah khususnya Kementrian Lingkungan Hidup untuk memperhatikan tersebut. Walaupun Indonesia pada urutan 74 itu bukanlah suatu prestasi , tetapi ukuran semata saja. Untuk seluruh Komunitas Universitas Gunadarma , mulailah menjaga lingkungan hidup.

    • Budi Hermana says:

      Mudah2an keindahan alam Indonesia tinggal dongeng belaka. Keterpurukan kualitas lingkungan hidup sebenarnya ulah kita juga. Jadi jangan berharap alam mau bersahabat dengan kita kalo kitanya jadi musuh alam :(

      Terima kasih, salam

  17. ramah lingkungan sangat diperlukan sekali. zaman dulu penduduk di indonesia tidak terlalu banyak seperti penduduk sekarang, apalagi tingkat tekhnologi yang semakin canggih dan tingkat modrenisasi yang cukup pesat. banyaknya bangunan-bangunan tinggi seperti mall, apartemen dll yang mana lokasi ini dulu merupakan tempat yang sangat indah, sejuk dan nyaman. diera globalisasi ini sangat jarang kita temui daerah yang baik akan alamnya, karena semua lokasi itu sudah berbah menjadi bangunan tinggi
    Selain itu kurangnya penghijaun dan maraknya pencemaran polusi udara, hutan yang ditebang secara liar padahal hutan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, serta pelestari tanah, dan merupakan aspek biosfer Bumi yang paling penting. tetapi hal itu tidak di hiraukan oleh masyarakat yang masih menebang hutan secara liar dan 1 hal lagi janganlah membuang sampah sembarangan.
    cintailah negeri kita INDONESIA ! siapa lagi yang menjaga INDONESIA kalau bukan kita :D

    • Budi Hermana says:

      Dulu kala Indonesia terkenal dengan masyarakatnya yang ramah, sekarang mungkin karakter masyarakat Indonesia semakin luntur, termasuk semakin tidak ramah pada lingkungan. Jadi jangan dibalik, mengharapkan lingkungan yang ramag kepada kita. Semua tergatung masyarakatnya.

      Salam Go Green

      • maksudnya dibalik pak ?
        ramahnya lingkungan itu tergantung kita masyarkat yang menjaga lingkungan itu bagaimana ? dan bukan lingkungan yang menjaga kita
        dengan kita tidak membuang sampah sembarangan dan menebangi hutan secara liar, hal itu membuktikan kita mencintai lingkangan sekitar kita pak
        dapat kita ketahui bahwa penduduk sekarang jauh lebih banyak dibandingkan penduduk sekarang apalagi masyarakat sekarang banyak yang tidak bertanggung jawab dengan lingkungannya
        makasih pak :D

  18. Kalau dibicarakan masalah dan solusi tanpa tindakan nyata pastinya hanya menjadi pepesan kosong. Sejauh sepengetahuan saya sejak global warming, seperti negara adidaya Amerika Serikat yang bisa dikatakan mengambil andil paling banyak menyebabkan global warming, toh mereka bisa menemukan solusinya. Kenapa Indonesia tidak. Akademisi hanya bisa berkata tanpa tindakan nyata dan realisasi seperti apa di lapangan. Pencanangan 1juta pohon pun tidak signifikan berdampak pada global warming khususnya di Indonesia. Langkah awal bisa dari mentaati UU tata kota yang mewajibkan setiap perumahan, kelurahan, kecamatan memberikan kontribusi sebesar 30 persen RTH (Ruang Terbuka Hijau). Kota Bekasi saja baru 15 persen RTH terpenuhi, artinya masih banyak PR yang harus dikerjakan. Tidak hanya dari Pemerintah setempat tapi diri kita sendiri, masyarakat pun ajak supaya kita sebagai Mahasiswa tidak melulu membahas teknologi mutakhir, cara bagaimana alam membaik dst tapi dari diri kita sendiri tidak bertindak dan tidak memberikan kontribusi apa-apa. Alam kan semua patut menjaga dan melestarikan…tidak dilihat dia seorang Doktor, profesor, atau titel apapun kalau tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap masyarakat dan lingkungan untuk apa juga…apapun titelnya tetap mereka masyrakat.
    Saya rasa banyak teori yang kalian bahkan anda sekalipun lebih pandai, jika kita sebagai masyarakatnya sendiri saling menyalahkan, hanya bisa berargumen tanpa tindakan nyata, bukankan alam akan semakin memburuk?
    Apartemen, mall, minimarket dan semua fasilitas mumpuni lain kita tidak pungkiri mereka sangat berdampak mulai dari investasinya yang bisa sumbangkan PAD besar. Kita pun bisa berdiri beriringan dengan berbagai teknologi yang kian maju tanpa merusak alam.
    Kita tidak bisa flash back kembali ke zaman dahulu, karena ini sekarang. Karena remaja jaman sekarang jika disuruh kembali lagi ke jaman dahulu pasti tidak mau membayangkan. Yang bersekolah sepanjang 10km hanya berjalan kaki, tidak ada mall dan nongkrong di sawah. Yang makan hanya denga singkong rebus. Bisa dibandingkan idealismenya remaja jaman dulu dengan jaman sekarang. Think smart talk less and do more. Lakukan yang terbaik untuk hijaukan daerahmu sendiri.

    • Budi Hermana says:

      Yuk, kita galakkan lagi dapur hidup dan apotik hidup di halaman rumahnya masing-masing. Yang tidak punya halaman luas, bisa menggunakan pot atau karung bekas sebaghai media menanam pohon yang bisa dimanfaatkan. Program ini lagi coba digalakkan di kampung saya :) Biar kalo cuma cabe, tomat, jahe sebiji aja tidak harus beli, cukup mengambil aja di halaman :)

  19. hal terbaik yang dapat dilakukan Membuat kepastian , dan melangkah secara bersama. Do What We can do , Don’t wait tomorrow, kenapa ?? hanya kata , tanpa tindak lanjut nga bakal sukses , hanya langkah tanpa ada kepastian sama aja berhenti ditengah jalan , coba secara bersamaan melangkah untuk menjaga tanah kita , melakukan pemantauan , pem,binaan dan itu menjadi kegiatan rutin . mungkin pasti hal mencapai bumi yang baru terwujud

    • Budi Hermana says:

      Sepakat, dan itu bisa dimulai dengan menata halaman rumahnya masing-masing. Seperti komentar sebekumnya, ayo buat dapur hidup dan apotik hidup lagi :) Hijau bisa dimulai dari hati kita dan lingkungannya masing-masing :) Terima kasih, salam

  20. Halaman rumah sampai bosan ditanami tanaman..rumah sendiri ditanami buah2an sampai pohon cabai. kalau tanam pohon tomat pernah juga tanam tapi tidak tahan banting soalnya butuh perawatan intensif. Di sekitar rumah cukup asri karena masih belum terjamah teknologi. Hanya dijamah perumahan yang semakin menggerus pertanian di wilayah sekitar rumah saya, Bantargebang. Entah bagaimana caranya mainset orang kota yang tinggal diperumahan mau menghijaukan wilayahnya sendiri. Kalau diajak bersama2 tanam pohon dikiranya kita yang masyarakat kampung menyuruh. wahh sampai bosan rasanya saya mengajak menghijaukan wilayah dari hal yang kecil. tapi tak bosan karena melihat alam indonesia yg semakin terkikis akibat egoisme masyarakatnya sendiri.

  21. Rahmi Imanda says:

    Bicara soal alam Indonesia menurut saya merupakan suatu hal yang menyenangkan namun memprihatinkan. Ketika saya kecil saya sangat senang belajar budaya alam Indonesia, kagum akan keindahan alamnya. Rasa kagum itu tidak berkurang namun tumbuh rasa prihatan melihat kondisi alam Indonesia yang dulunya indah sekarang rusak oleh pihak-pihak yang tidak bertangung jawab. Memang Indonesia berusaha unuk menjadi negara yang makmur dan modern, tapi Indonesia lupa untuk mempertahankan indahnya bumi pertiwi. Kemajuan yang ingin dicapai Indonesia merusak jati dirinya sendiri sebagai bumi yang kaya akan keindahan alamnya, padahal disitulah letak indahnya negri kita. Memprihatikan, ketika saya melihat rakyat Indonesia tinggal bersama tumpukan sampah yang menggunug, bahkan disitu banyak anak-anak yang kekurangan gizi, sampai-sampai rambut mereka pun berubah menjadi warna kuning. Mereka hidup di lingkungan sampah-sampah yang busuk dan bau. Rusaknya alam Indonesia sangat berpengaruh terhadap kehidupan rakyat Indonesia terlebih bagi mereka yang hidup serba kekurangan. Alam Indonesia adalah titipan Tuhan terhadap kita, mampukah kita menjaga amanat itu? Pribadi kita masing-masing yang dapat menjawabnya.. :)

    • Rumah Pena Rumah Pena (Author) says:

      Iya sih Rahmi, memang tergantung pribadinya masing-masing. Tapi apa ya aksi nyatanya. Memang banyak usulan dan program penyelamatan lingkungan, tapi kayaknya belum ada kesadaran dan gerakan kolektif ya :)

  22. Saya sangat setuju tentang tulisan bapak ini, memang betul alam Indonesia semakin memburuk. Bahkan dari yang sebelumnya merupakan taman beserta pohon-pohon yang subur tiba-tiba sekejap berubah menjadi perumahan dan mal-mal, yang menurut saya bukan menyejahterakan masyarakat melainkan memperburuk keadaan alam dan keadaan ekonomi di Indonesia.
    Entah siapa yang harus disalahkan? pemerintahkah? atau masyarakat sendirikah?
    Memang keadaan alam inilah yang setiap hari menjadi PR bagi kita semua.

    Tetapi, di balik sekilas alam negara tercinta kita ini semakin memburuk, patutlah kita berkunjung ke tempat wisata yang memang jarang dikunjungi dan bisa kita lestarikan pula, contohnya seperti Ujung Genteng dan Curug Cikaso ( ini bukan promosi loh pak..hehe ). Hanya saya memang benar-benar kagum, karena justru di bagian pedalamanlah masih terdapat pesona-pesona Indonesia yang tersembunyi, selain kedua itu memang masih banyak tempat wisata kecil yang seharusnya bisa kita jaga terus.

    Jadi, meskipun alam Indonesia memburuk, tetaplah kita bersyukur dan selalu berusaha semaksimal mungkin entah apapun caranya untuk terus menjaga alam kita ini, ya mulai dari hal kecil saja seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengganti knalpot yang mengeluarkan asap kotor dengan knalpot yang baru dan masih banyak lagi. Terimakasih pak :)

  23. ganang muhammad says:

    iya,kenapa masyarakat INDONESIA sekarang kebanyakan pada tak perduli sama alamnya ya?
    padahal kita tau alam Indonesia begitu menakjubkan yang diberi sama ALLAH,coba deh kita buat program agar masyarakatnya dulu sadar akan alam.karena menurut ku alam Indonesia bisa menjadi modal kemajuan negara Indonesia menjadi negara maju.yah diawali sampah deh,trs pohon,dan yg utama perduli sama hewan juga.kita buat program kesadaran masyarakat!!!

  24. kurangi penggunaan kendaraan bermotor! tanami jalan-jalan dengan pepohonan! hmm, coba Indonesia seperti Singapura :)

Leave a Reply