Graha Pena Gunadarma

Kebijakan Unggah Karya Ilmiah, Efektifkah Mencegah Plagiat?

April 30th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 23 Comments

Pernahkah Anda mendengar guyonan bahwa orang Indonesia bisa mendarat di bulan hanya mengandalkan tumpukan kertas saja? Guyonan bernada sindirian itu dilontarkan karena begitu banyaknya konsep tertulis atau kertas kerja yang dihasilkan, namun tidak ada tindaklanjut atau implementasinya.  Entahlah, siapa yang pertama kali melontarkan guyonan itu, dan kita pun tidak tahu persis seberapa banyak tulisan-tulisan yang telah dihasilkan oleh orang Indonesia sehingga muncul sindiran tersebut.

Menyoal tulis-menulis ini jadi teringat dengan budaya menulis di kalangan akademisi. Rasanya kampus bisa menjadi gudang tulisan, baik itu tugas-tugas mahasiswa, laporan penelitian, makalah, dan produk tulisan lainnya. Pertanyaannya, seberapa banyak produk-produk ilmiah tersebut terbaca oleh publik. Tingkat keterbacaan karya ilmiah pun rendah jika semuanya tersimpan di atas meja atau di dalam lemari. Kebermanfaatannya pun kecil karena khalayak tidak bisa membaca dan mengambil manfaat dari tulisan tersebut.

Di era informasi, keterbacaan karya ilmiah bisa meningkat jika diunggah ke internet. Medianya bisa berupa situs kampus, jurnal online, paper repository, bahkan situs atau blog pribadi. Memang tidak semuanya mempunyai infrastruktur yang mendukung implementasi kebijakan tersebut. Namun, selalu ada kebijakan yang bersifat otoriter atau paksaan karena ada maksud lain dari kebijakan tersebut.

Keterbukaan karya ilmiah Indonesia menjadi salah satu isu yang diangkat dalam Surat Edaran Dikti. Kini, semua produk ilmiah dosen dan mahasiswa wajib online, seperti disebutkan dalam Surat Edaraan Dirjen DIKTI nomor 2050/E/T/2011 tanggal 30 Desember 2011 perihal kebijakan unggah karya ilmiah dan jurnal. Naskah lengkap surat edaran tersebut bisa dilihat di sini.

Surat Edaran Tentang Kebijakan Unggah Karya Ilmiah (sumber: http://dikti.go.id)

Jadi, kebijakan tersebut justru dimaksudkan untuk mencegah plagiat, terutama untuk kalangan dosen dan mahasiswa. Karya ilimah yang online bisa dibaca oleh publik, dan bisa diniliai atau ditelusuri di dunia internet. Keterbukaan untuk dinilai dan ditelusuri inilah yang menjadi sasaran dari Surat edaran tersebut.

Namun jika tidak hati-hati, keterbukaan karya ilmiah di internet bisa berdampak buruk, yaitu dengan terjadinya praktek-praktek plagiarism, atau generasi muda menyebutnya “copas”. Bisa saja budaya copas makin marak dengan kebijakan ini. Namun dengan adanya peraturan dan kebijakan lain, kebijakan unggah karya ilmiah seharusnya bisa mencegah plagiarisme.

Ya, sebuah karya ilmiah yang sudah online retatif mudah ditelusuri kemiripannya satu sama lain. Tingkat kemiripan tersebut memang belum tentu plagiat karena harus dicermati lebih mendalam. Menurut Kepmendiknas No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan  Tinggi, “Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyebutkan sumber secara tepat dan memadai”.

Bagaimana tahap pencegahan dan penanggulangan praktek pragiat di perguruan tinggi selengkapnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri tersebut di sini.

Salah satu indikator yang bisa digunakan untuk melihat kinerja publikasi ilmiah Indonesia adalah pemeringkatan publikasi ilmiah yang dirilis oleh Scimago pada websitenya  sini. Peringkat Indonesia per 30 April 2012 adalah ke-64, masih kalah dengan Singapura, Thailand, dan Malaysia berturut-turut menempati posisi 32, 42, dan 43. Jawara dunianya adalah Amerika Serikat dengan jumlah dokumen sebanyak 5322590 dokumen, disusul China, Inggris, Jepang, dan Jerman.  Jumlah dokumen Indonesia hanya 13047 dokumen. Sangat sedikit dibandingkan, misalnya dengan jumlah dosen dan mahasiswa.  Berikut posisi Indonesia dibandingkan negara-negara lainnya.

Perbandingan peringkat Indonesia dengan negara lain (Sumber: http://www.scimagojr.com/countryrank.php diakses tanggal 30-4-2012)

———-
Catatan:

Berikut beberapa rujukan yang membahas berbagai tipe plagiat:

  1. Plagiarism of Words, Plagiarism of Structure, Plagiarism of Ideas, Plagiarism of Authorship, dan Plagiarism of Self- bisa dilihat di sini, atau,
  2. “Copy & Paste Plagiarism”, “Word Switch Plagiarism”, “Style Plagiarism”, “Metaphor Plagiarism”, dan “Idea Plagiarism” dapat dilihat di sini.

Tulisan Dengan Topik Terkait

Ditulis Oleh

Rumah Pena → Redaksi Rumah Pena

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pena.gunadarma.ac.id

23 Responses to “Kebijakan Unggah Karya Ilmiah, Efektifkah Mencegah Plagiat?”

  1. Rianto Purba says:

    Plagiat karya Ilmiah memang marak akhir-akhir ini. Hal ini memicu rasa tidak aman bagi para penulis atau pencipta karya Ilmiah. Dengan unggah karya ilmiah, menurut saya hal ini sangat efektif untuk mencegah plagiarism. Karena setiap karya yang terunggah akan transparan dan mudah dideteksi apakah karya tersebut merupakan hasil plagiat. Namun hal ini juga harus didukung dengan peraturan atau hukum yang jelas sebagai tindak lanjutnya. Agar setiap calon creator karya ilmiah berpikir dua kali untuk melakukan plagiat. Satu pesan saya, karya yang original adalah karya yang lebih baik dan lebih bernilai.

    Salam…

  2. Pengunggahan di dunia maya memang merupakan langkah nyata para pemerintah guna meningkatkan niat baca dikalangan masyrakat yang global, dan tentunya apresiasi yang akan diberikan bukan hanya warga sendiri namun juga warga luar, dan ini tentunya menaikkan reputasi Indonesia, namun melihat Indonesia setia bertahan diurutan yang cukup rendah tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas orang terdidik dalam menaikkan kualitas menulisnya kurang mumpuni, terlebih dalam dunia pendidikan sudah rahasia umum para terdidik ini kurang mendapatkan pembelajaran yang baik tentang bagaimana menulis dan kurang menekankan mengapa mereka harus menulis, saya katakan demikian karena menulis bukan saja menuangkan ide-ide namun juga bagaimana menyampaikannya, itulah kurangnya pendidikan di negara ini dan satu lagi tentang plagiat, ini adalah bukti yang mendukung argumen saya diatas, seorang plagiator tidak akan menjadi plagiat bila ia mampu dalam dunia tulis menulis dan mampu untuk menyampaikannya dan mungkin jika ia pandai namun ingat Indonesia menerapkan sistem pendidikan dimana nilai lebih penting daripada asalnya, inilah mengapa alasan plagiat mempunyai rangking yang cukup tinggi.

    =)

  3. Pengunggahan di dunia maya memang merupakan langkah nyata para pemerintah guna meningkatkan niat baca dikalangan masyrakat yang global, dan tentunya apresiasi yang akan diberikan bukan hanya warga sendiri namun juga warga luar, dan ini tentunya menaikkan reputasi Indonesia, namun melihat Indonesia setia bertahan diurutan yang cukup rendah tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas orang terdidik dalam menaikkan kualitas menulisnya kurang mumpuni, terlebih dalam dunia pendidikan sudah rahasia umum para terdidik ini kurang mendapatkan pembelajaran yang baik tentang bagaimana menulis dan kurang menekankan mengapa mereka harus menulis, saya katakan demikian karena menulis bukan saja menuangkan ide-ide namun juga bagaimana menyampaikannya, itulah kurangnya pendidikan di negara ini dan satu lagi tentang plagiat, ini adalah bukti yang mendukung argumen saya diatas, seorang plagiator tidak akan menjadi plagiat bila ia mampu dalam dunia tulis menulis dan mampu untuk menyampaikannya dan mungkin jika ia pandai namun ingat Indonesia menerapkan sistem pendidikan dimana nilai lebih penting daripada asalnya, inilah mengapa alasan plagiat mempunyai rangking yang cukup tinggi.

    =)

  4. Chairunnisa says:

    Kebijakan unggah karya ilmiah ,menurut saya efektif untuk mencegah plagiat ,karena dengan mengunggah karya ilmiah yang sudah dibuat ,kita akan mengetahui siapa yang membuat karya ilmiah tersebut karena memang saat ini sudah sangat banyak sekali karya sesorang yang tidak dihargai dengan melihat refrensi dari orang lain dan dengan membuatnya lebih kreatif malah plagiat tersebut yang di puji ,dan plagiat dalam tulisan itu biasanya terbentuk karena memang seseorang itu dipaksa untuk menulis atau membuat sesuatu tetapi malas untuk mengerjakannya karena sesuatu yang di paksakan kadang tidak sepenuhnya baik ,dan dengan adanya kebijakan unggah karya ilmiah kita dapat memberikan penghargaan intelektual kepada sumber referensi tersebut dan pembaca juga dapat melihat sumber referensi yang kita gunakan..

  5. copas mengcopas, copy mengcopy sepertinya ini sudah menjadi budaya sebagian masyarakat di Indonesia. tentu adanya budaya plagiat ini sangat merugikan untuk para pencipta/perilis sebuah karya. Dengan timbulnya budaya plagiat ini tentu kita tidak bisa menyalahkan siapapun. karena kita pun bisa melihat mengapa budaya plagiat ini bisa melekat erat disebagian masyarakat, karena kurangnya pengawasan dari pemerintah,kurangnya kesadaran masyarakatan tentang penciptaan sebuah karya, dan seorang pencipta/perilispun cenderung kurang peduli akan karyanya yang dicopas oleh oranglain. wasalamualaikum wr. wb

  6. Saya setuju dengan adanya pengunggahan karya ilmiah dikalangan akademisi untuk meningkatkan keterbacaan karya ilmiah dibanding ditumpuk atau dimasukin kardus, pengunggahan tersebut juga dapat bermanfaat untuk memberikan informasi kepada orang lain yang sedang membutuhkan informasi tersebut.

    Tetapi jika ditanya efektif tidaknya mencegah plagiat, saya berfikir keterbukaan malah akan membuat orang semakin terdorong untuk melakukan plagiat, dengan mengcopas semua tugas serasa mudah dan instan… bayangkan saja jika ada informasi yang dibutuhkan itu ada semua di suatu blog atau web, orang pasti cenderung mengkopi informasi tersebut tanpa berfikir untuk mengedit ulang atau apapun, orang pasti berfikir pemberi tugas ga bakalan mungkin tahu tentang hal itu…
    kecuali jika pemberi tugas tegas dengan tugas yang diberikan dan membenci plagiat barulah itu dapat mengurangi plagiat dikalangan akademisi karena orang tersebut tidak akan mengambil resiko dengan melakukan plagiat.

    walaupun plagiat itu tergantung dari diri seseorang tersebut, tetapi dengan adanya ketegasan seseorang akan lebih terdorong menghindari plagiat….

    terima kasih… ;)

  7. saya setuju dengan adanya “Surat Edaran Tentang Kebijakan Unggah Karya Ilmiah” tersebut, tetapi alangkah baiknya hal baik ini lebih disosialisasikan dengan aturan yang berlaku, himbauan yang membangun dan juga sanksi yang jelas, tegas.
    Dengan adannya kebijakan ini, akan membangun kebijakan dalam bidang lain. Yang akhirnya negeri ini tidak dicap sebagai “Negeri Peniru” tetapi dapat membuat hasil karya yang positif dari ide dan kreatifitas anak bangsa sendiri.

    Sedikit masukan agar para penulis dapat mengantisipasi atau mencegah tindakan copy paste atau plagiarisme yaitu dengan cara mematikan fungsi select pada tulisan blog, selain itu anda juga dapat proteksi atau menonaktifkan pengambilan gambar/photo/video pribadi pada blog anda.
    Hargai dan lindungi hasil karya tulisan anda dari pencuri (tanpa ijin dari anda).

    Orang pintar karena membaca, tetapi orang cerdas karena menulis..
    Mari bangun “Indonesia Menulis” . Terimakasih atas perhatiannya :)

  8. Plagiarisme merupakan sikap yang tidak benar dan buruk. Pasalnya, perbuatan ini menyalahi kode etik yang ada. para Plagiator seharusnya menjungjung tinggi kejujuran dan pecaya pada kemampuan Pribadinya.Dengan dimasukannya produk akademis ke jurnal ilmiah online maka menurut saya akan sangat efektif untuk mencegah praktek plagiarism. Sebab, dalam jurnal online itu terdapat software yang mampu mendeteksi pelaku plagiat.Bila ada yang melakukan plagiat atau penjiplakan suatu karya yang telah di unggah / di publish maka akan diketahui. saya pribadi sangat setuju sekali untuk produk akademis dan non akademis harus dimasukan ke dalam jurnal ilmiah online untuk mencegah terjadinya tindakan plagiatisme.

  9. Pengunggahan suatu karya dalam dunia maya dengan notabene untuk menghindari pemlagiatan dapat dikatakan belum terlalu efektif.
    Dikatakan demikian karena dewasa ini, banyak para plagiator ( yang memang dirinya tahu dia seorang plagiator ( ataupun tidak tahu ) ) semakin gencar dalam melakukan aksinya. Suatu karya yang dihasilkan para penulis dapat mereka copas dengan mudah, dalam alasan bahwa tidak ada suatu hak cipta yang atau pematenan karya tersebut di dunia maya. Dalam kasus lain, plagiarisme dilakukan karena ketidaktahuan si pelaku, dengan dalih tidak tahu menahu dan tidak sengaja. kode etik penulisan yang mengharuskan mencantumkan sumber atau siapa penulisnya bila ingin mengutip sesuatu menjadi ilmu dasar yang kurang dipahami dalam era ini.
    Seiring berjalannya waktu. Teknologi pengunggahan karya ke dalam dunia global melalui berbagai media memang menghasilkan banyak profit tersendiri bagi dunia akademi. Tapi di sisi lain, para penulis, author, dll juga diliputi ketakutan bahwa karyanya akan dicatut tanpa sepengetahuan mereka dengan teknologi “copas”.
    Maka dari itu. bila keefektifan pemlagiatan karya ingin digalakkan. Maka harus semakin dikuatkan juga hukum yang menaungi dan menjaga suatu karya tersebut.
    Salam!

  10. Universitas Gunadarma termasuk salah satu civitas yang mendorong untuk terselenggaranya publikasi ilmiah dengan istilah yang mungkin bisa saya katakan “go-online”, mengingat banyak sekali cara pemublikasian ilmiah tanpa harus terkoneksi dengan internet.

    Terkait hal diatas, mulai berlaku lah istilah mata kuliah softskill yang mayoritas tugasnya harus dilakukan kedalam blog, ataupun mata kuliah lain. Maka, dengan itu ramai penulisan blog berjamaah oleh mahasiswa kita, tapi tentu hal ini menimbulkan polemik baru.

    Polemik ini, saya rasa cukup menjawab pertanyaan dari judul tulisan diatas yang mempertanyakan keefektifitasan unggah karya ilmiah, karena jawabannya adalah “ya”. Mengapa saya berikan ya dalam tanda kutip? Karena memang benar, dengan adanya gembar-gembor hukuman, peringatan, larangan, a, i, u, e, o, mahasiswa seperti tidak pernah lupa untuk mencantumkan sumber asal mereka mengkutip tulisan.

    Namun disisi lain, tanpa atau mungkin saja anda semua sadari, bahwa banyak mahasiswa yang hanya menyalin (copy) tulisan beberapa sumber lalu ditempel (paste) ke dalam blognya tanpa sedikitpun (atau sangat sedikit, cuma hapus dan tambahkan beberapa kata) mengubah tulisan tersebut. Maka, menurut saya disini seperti ada cidera ilmiah. Benar, mereka mencantumkan sumber. Tapi dari segi etis, apa sebenarnya yang mereka kerjakan? Bukankah sebenarnya ini sama saja dengan plagiat? Hanya menyalin keseluruhan tulisan, memberikan sumber, lalu mengunggah bahwa itulah tugas mereka?

    Maka, menurut saya disitulah titik gap-hole yang seharusnya harus lebih lanjut dicover dan dibahas.

  11. Kebijakan mengunggah karya ilmiah, menurut saya menimbulkan respon yang berbeda.

    Di satu sisi, mungkin bisa mengurangi tingkat plagiatisme. Akan tetapi juga menimbulkan ketakutan seseorang untuk menulis, Karena ketika ia memiliki ide membuat suatu tulisan dan ternyata ada beberapa kesamaan setelah melihat karya yang diunnggah, membuatnya mengurungkan niat untuk ikut serta.

    Tapi di satu sisi bisa juga meningkatkan plagiatisme. Mengingat peraturan mengenai hal ini sudah dibuat tetapi mayoritas masyarakat masih belum mengetahui dengan jelas peraturan mengenai hal tersebut dan pengetahuan mengenai cara penulisan yang baik dan benar tidak digalakkan (seperti mengutip kalimat tidak langsung dan langsung dari sebuah buku atau pendapat orang lain, dsb). Sehingga masyarakat termasuk pelajar/mahasiswa minim hal ini.
    Dan semua karya ilmiah yang pernah diikutsertakan tidak mungkin diketahui oleh semua calon penulis walaupun karya ilmiah tersebut telah diinggah sendiri dan ataupun oleh instansi terkait. Jadi, masih memungkinkan terjadinya plagiatisme (kesamaan tulisan yang tidak disengaja).

    terima kasih.

  12. Plagiarisme merupakan bentuk tindakan melanggar undang-undang hak cipta dan melanggar kode etik dalam dunia menulis .memang kebanyakan plagiator merugikan pihak yang membuat karya tulis dengan susah payah dan memerlukan pemikiran ,tapi tahukah anda?plagiarisme tidak selalu buruk ,plagiarisme justru membuat karya lebih panjang umur karena karya tersebut terdapat di banyak tempat dan tidak akan hilang di makan zaman .seperti pantun dan cerita rakyat banyak yang anonim atau tidak di ketahui penciptanya ,walaupun ini salah satu kerugian sang penciptanya tidak di kenal ,namun saya yakin dia akan turut senang karena karyanya tidak akan hilang di telan zaman ,dan karya -karya yang tidak di kenal dan sedikit pembaca, karena banyaknya plagiarisme atas karya tersebut dan menyertakan sumber asal,munkin ini merupakan keuntungannya.plagirisme sama halnya seperti mencontek jika kita berhasil membuat orang kagum atas karya kita (akibat plagiat) maka kita akan terus melakukannya maka dari itu kita harus menjauh dari sikap plagiarisme.namun saya sendiri bukan orang yang mendukung plagiarisme ,membuat kita tidak inovatif dan kreatif dalam mengeluarkan ide. tentu saja membuat kita seperti tidak menghargai karya orang lain,jika kita terpaksa melakukan plagiarisme cantumkan sumber yang jelas ,ambil fakta dan sampaikan degan cara berbeda .

  13. Andikawati says:

    Sebaiknya setiap karya ilmiah yang diupload ke Internet, baik itu diupload ke blog maupun situs lainnya. Dokumen karya ilmiah tersebut diproteksi, sehingga tidak mudah orang untuk melakukan copy paste isi dari dokumen tersebut. Sekarang juga telah banyak ebook yang ada di Internet yang softcopy nya diproteksi dengan password oleh pembuat ebook tersebut. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan dan niat dari si pelaku, begitupun dalam hal kasus plagiat karya ilmiah. Dan jika ada terbukti seseorang melakukan plagiat dari karya cipta orang lain, dikenakan denda yang berlaku dan tentunya bukan sekedar peraturan saja tetapi juga dilaksanakan. Sehingga kasus plagiat ini tidak terjadi lagi.

    • Bejo says:

      Percuma mbak kalau cuma tidak bisa dicopy tapi masih bisa tampil di layar dengan mudah dapat diubah jadi file berformat word dengan teknik OCR.
      Memang sih jadi tidak mudah meng-copy langsung, tapi namanya mahsiswa akal bulusnya udah ngalahin akalnya kancil…hehe

  14. Bejo says:

    Untuk pencegahan Plagiarisme di kalangan akademisi cara paling jitu adalah dengan memberdayakan para reviewer dari karya ilmiah yang akan dinilai (baik skripsi, tesis, atau disertasi) atau bahkan sekedar tugas makalah mata kuliah. Jadi para dosen yang menjadi penentu kelayakan suatu karya ilmiah harus melek internet (Jangan Gaptek). Setiap karya ilmiah yang akan dinilai dapat dengan mudah di cross cek dengan mesin pencari (google misalnya). Misal dengan mengambil satu dua kalimat yang dicurigai sebagai hasil plagiat dari karya orang lain kita copy kemudian paste di google. Kalau ada kata/kalimat mirip akan ketahuan.
    Semoga dengan para dosen yang tidak mudah dikelabui oleh para mahasiswa yang biasanya lebih trampil dan canggih, bisa mencgah pragiarisme di kalangan akademisi. Semoga

  15. anonymouse says:

    kalo uang sudah bicara, apapun pasti bisa

Leave a Reply